…kurang peka…

Beberapa hari lalu, gue bertemu teman-teman lama. Salah satu teman gue barusan kehilangan istrinya karena sakit (Al Fatihah untuk dia). Semasa hidupnya, si istri ini menjadi tempat curhat teman-temannya. Lalu teman gue bercerita, bahwa pada saat istrinya dirawat di RS, yang sudah dalam keadaan sulit berbicara, masih ada beberapa teman istrinya yang datang menjenguk, tapi alih-alih bertanya tentang keadaannya, mereka malah curhat kehidupan diri dan membuat istrinya kurang istirahat.

Hal lain yang diceritakan oleh teman gue, ketika istrinya meninggal, dalam keadaan berduka, ada saja teman-temannya yang bertanya mendetail mengenai kenapa bisa meninggal, sudah berapa lama sakit, dan berbagai pertanyaan tetek-bengek lainnya yang (mungkin) menurut sebagian orang merupakan pertanyaan wajar.

Entah bagaimana dengan kalian, tapi menurut gue, apa yang sudah dilakukan temannya teman gue ke dia atau istrinya itu bukan hal yang sepantasnya. Adabnya ketika menjenguk, pusatkan perhatian pada yang sakit, hibur, beri semangat kepada pasien atau penunggu, panjatkan doa untuk kesembuhannya, bukan malah membawa setumpuk persoalan hidup yang tidak ada manfaatnya. Sementara adab orang yang melayat itu ya mendoakan agar almarhum/almarhumah mendapat jalan yang lapang. Nggak perlulah bertanya-tanya mendetail tentang bagaimana dia meninggal, sejak kapan sakit (jika melalui sakit terlebih dahulu), dan hal-hal lain yang membuat jengah mereka yang ditinggalkan, tapi tidak bisa diutarakan langsung karena sungkan, khawatir menyinggung si penanya.

Dari dua hal yang diceritakan teman gue itu, ada satu benang merah, bahwa kepekaan manusia terhadap sesuatu itu sudah musnah. Gue tidak menyamaratakan, tapi coba lihat sekitar, betapa banyak pertanyaan-pertanyaan yang tidak bermanfaat bagi kehidupan sang penanya, tapi tetap ditanyakan hanya karena mereka merasa itu merupakan sesuatu hal yang wajar. Tak jarang, menjadi sesuatu yang wajar pula untuk diteruskan ke pihak lain, yang belum tentu juga mengenal pribadi orang tersebut, dan belum tentu juga tidak keberatan bila informasi yang dia berikan itu diteruskan ke pihak lain.

Gue selalu mengukur ke diri gue, dan sebelum melontarkan pertanyaan-pertanyaan nggak penting, biasanya gue tanya ke diri sendiri, apakah gue suka atau keberatan apabila ditanya orang lain mengenai A, B, C, D? Jika melihat cerita teman gue, apa susahnya sih, cukup mendoakan tanpa perlu tahu detail? Apa susahnya, cukup berniat datang menjenguk dan simpan curhatnya barang sejenak? Janganlah hidup sebagai orang yang egois. Berempati dan bersimpatilah sedikit. Nggak susah kok. Cukup biasakan diri untuk membaca situasi, belajar untuk memposisikan diri kita ke orang lain, belajar untuk menahan diri dengan tidak mengajukan sejumlah pertanyaan yang sebenarnya tidak ada manfaat bagi kehidupan diri sendiri, belajar untuk lebih banyak mendengar.

Banyak bertanya tidak berbanding lurus dengan peduli, dan tidak bertanya bukan berarti cuek.

If you like, share it 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial