…semua akan terkena pada waktunya…

Sudah 5 tahun sejak pertama kali virus Corona ditemukan. Ketika awal ada berita tentang virus ini, gue anggap enteng seperti orang-orang kebanyakan. Bahwa ini adalah virus flu biasa yang terlalu dihebohkan. Ternyata gue salah. Virus ini membuat seluruh dunia ketakutan. Bahkan gue dan ibu Tjuk yang sedang melakukan perjalanan keluar negeri saat awal virus ini “mengguncang” dunia harus terkena dampaknya. Kami berdua (plus 8 orang lainnya di dalam grup kecil) tidak bisa masuk ke Israel untuk mengunjungi Aqsa. Alhasil, kami berubah destinasi dengan menjelajahi Yordania saja sebagai gantinya. Kasihan sih kalau melihat raut kekecewaan di wajah ibu Tjuk. Mau dia jalan lagi ke sana, tampaknya sudah tidak bisa lagi karena sudah semakin sering mengeluh kecapekan. Ah sudahlah, mari kita berlanjut menulis yang lain.

Omong-omong soal virus Corona, gue adalah alumni Delta dan itu terjadi pas Ibam usia 1,5 bulan (Juli 2021). Kemungkinan gue tertular dari kakak gue, karena pas gue lagi nginep di rumah ibu Tjuk, dia belum tahu kalau dia terkena Delta. Jadi ya tentunya kami berinteraksi seperti biasa. Selang 1-2 hari kemudian, dia kasih tahu kalau dia kena Delta. Saat itu gue tidak terpikir sama sekali untuk tes lab. Kira-kira 2 hari kemudian, gue beli nanas madu untuk gue dan mas Erwin. Ketika mas Erwin, dia nggak ada keluhan apa-apa. Tapi pas gue malam nanas itu di sore hari, dari saat gue gigit tuh nanas, gue berasa kok ini nanas bergetah banget, padahal biasanya beli dari abang yang sama juga nggak kenapa-napa. Gue sih tetap makan itu nanas sampai gigitan terakhir sambil ngebatin, mungkin nanasnya lagi nggak bagus aja dan si abang lagi khilaf cara motongnya, hahaha…

Nah, ternyata reaksi nanas itu cepat sekali. Pas gue tidur malam, sekujur badan gue gatal sekali. Gue sampe nggak mau selimutan karena bahan itu selimut memperparah gatalnya gue. Padahal itu selimut baru gue ganti 2 hari yang lalu. Semalaman gue benar-benar nggak bisa tidur karena garuk-garuk mulu.

Paginya gue langsung cek badan gue. Ya ampuuuun, kulit gue udah tebal kayak alergi nanas. Memang sih dulu gue pernah alergi nanas, tapi itu pas gue usia 5 tahun. Gara-garanya juga karena nanas yang gue makan bergetah. Nah, balik lagi ke kondisi gue tadi. Gue sampe ngeri sendiri karena kulit selain tebal, jadinya merah-merah. Kalian tahu kan, kalau gatal bawaannya pengen garuk, dan kalau sudah garuk, susah sekali stopnya? Nah gue kayak gitu.

Ketika gue harus fokus kasih ASI ke Ibam, tapi gue juga harus nahan gatal pas meng-ASI-hi dia. Benar-benar cobaan deh. Untung punya kenalan dokter, jadi bisa konsultasi tentang hal ini. Dia suruh gue mandi air dingin (sebelumnya gue salah, gue mandi air hangat) kalau gatal sudah mulai merajalela. Jadinya gue mandi air dingin beberapa jam sekali dan basuh badan pakai es batu. Beneran membantu sih, walau sedikiiiiiiiiiit sekali. Setelah mandi, gue pakein Caladine. Nah, untungnya sempat kasih tahu ke dokter kalau gue pake Herocyn pas gue gatal. Langsung kayak diomelin, karena Herocyn justru memperparah alergi gatal. Berhubung nggak ada Caladine di rumah, langsung gue beli via aplikasi.

Malam hari jadi cobaan lagi, dan gue benar-benar berharap untuk segera pagi kembali. Istirahat gue kurang, tapi gue mikir, yang penting kebutuhan Ibam terpenuhi dan dia tidak terganggu tidurnya sama sekali ama gue.

Nah besoknya sudah mulai agak berkurang gatalnya. Kulit tebal di kulit sudah mulai berkurang juga. Tapi sekarang area gatalnya pindah, yaitu ke kulit kepala dan lidah! Aneh banget nggak sih? Itu kayak elo sariawan di seluruh lidah. Kulitnya ampe putih-putih gitu. Asli susah banget itu garuknya. Untung mas Erwin itu WFH, jadi ketika gue sibuk dengan mandi es batu dan gatal-gatal, dia bisa ngawasin Ibam. Dan untungnya (lagi!), karena Ibam masih 1,5 bulan, jadi kegiatannya ya cuma tidur, ASI, tidur, ASI, aja.

Hari ketiga setelah makan nanas, alergi gue sudah semakin hilang, tapi gue kok jadinya kayak demam gitu. Di hari ini, mas Erwin sudah mulai batuk-batuk kering gitu. Kami putuskan untuk pakai masker supaya tidak menulari Ibam. Walau demam, untungnya gue masih bisa masak dan membereskan rumah.

Pas hari kelima, baru deh fix gue tahu gue kena ini virus sialan. Kenapa? Karena gue kena anosmia! Kebayang nggak sih? Bangun tidur, trus tahu-tahu hilang aja penciuman elo. Gue kan berkutat di dapur, masak. Lha ya kok gue nggak mencium itu yang namanya bau bawang merah? Parno dong gue. Gue ciumin semua barang yang berbau kuat kayak minyak kayu putih yang gue benci banget baunya. Langsung deh gue tanya kakak gue, berapa lama dia kena anosmia. Dia bilang sekitar 4-5 hari. Trus gue cari di Internet, katanya orang bisa terkena anosmia sampai 6 bulan. Wakwaaaaaaaaaawwwwwww… E-N-A-M B-U-L-A-N???? Nah kalo gue kena anosmia, mas Erwin itu hilang indera perasanya. Jadi buat dia, semua makanan itu asin.

Setelah tahu gue kena Delta, langsung gue beli itu namanya cairan pembersih hidung (yang pake suntikan dan kayak botol infus itu), trus kungkum kepala pake air hangat yang ditetesi minyak kayu putih dan baking soda, minum minuman rempah supaya nggak makin parah, endus-endus essential oil untuk ngetes apakah masih anosmia atau nggak, makan tiga kali sehari, dan tentunya doa supaya tidak makin parah dan segera pulih. Berhubung gue adalah ibu menyusui, jadi gue nggak bisa minum sembarang obat. Obat yang bisa gue minum hanya panadol hijau untuk demam, siladex untuk batuk dan permen wood’s peppermint. Gue yang terbiasa obat dengan dosis tinggi sebelum hamil & punya anak, hanya bisa pasrah minum obat generik yang dosisnya cemen, hahahaa…

Gue dan mas Erwin tetap nggak ke lab untuk memeriksakan diri karena mikir, percuma juga wong udah jelas kami positif. Jadi yang kami lakukan ya pengobatan mandiri aja. Setelah 2 minggu berjalan, akhirnya kami sembuh juga. Jangan ditanya deh perasaan gue ketika bisa mencium bau essential oil lemon. Rasanya mau teriak (tapi gak bisa karena Ibam tidur)! Abis itu langsung gue endus bawang putih, bawang merah, dan tentunya, minyak kayu putih!

Dunia gue serasa kembali normal… Terima kasih Tuhan telah mengangkat penyakit kami. Terima kasih Ibam sudah mengerti keadaan ibunya yang lagi sakit dan tidak rewel sama sekali.

If you like, share it 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial