Konon kata, durian didaulat sebagai raja dari segala buah. Gue sendiri nggak tahu alasan tepatnya, tapi gue berasumsi bahwa ini karena kenikmatan durian yang tiada tara (hmmmm, setidaknya itu yang dirasakan oleh para pecinta durian).
Sebagai orang yang lahir dan sempat merasakan waktu kecil di Palembang, gue merasakan senangnya makan durian murah. Gue inget banget ya, bapak gue pernah pulang bawa 1 pikap durian. Yap, 1 pikap! Dan harganya itu berkali-kali lipat lebih murah dari Jakarta. Makanya waktu gue pindah ke Jakarta, salah satu hal yang gue rindukan selain makan pempek adalah makan durian.
Pas gue jalan-jalan ke luar Jakarta, gue juga usahakan untuk makan durian setempat. Sejauh ini, durian Nias dan durian Siau itu yang paling enak. Mungkin ini juga karena effort untuk belinya, hahahaha. Jauh dari Jakarta! Eh tapi jujur, rasanya tuh enak banget. Kalah lah itu Montong.
Nah pas gue punya Ibam, pas dia udah mulai bisa makan makanan dewasa, gue sudah berketetapan untuk mulai mengajari dia makan durian sedari dini. Kalau nggak salah, gue mengenalkan durian ke dia itu pas dia usia 13 bulan. Sekarang dia 3 tahun 7 bulan dan dia kadang bilang ke gue, “Bu, kita sudah lama ya nggak makan durian.” Hahaha, halus banget ya untuk minta gue beliin dia durian.
Omong-omong, sebenarnya ada nggak sih waktu khusus untuk makan durian? Maksudnya, apakah lazimnya makan durian itu hanya siang, sore, malam atau mungkin pagi hari? Soalnya kalau hal ini ditanyakan ke gue, pasti gue akan jawab nggak ada waktu khususnya. Gue bisa aja makan durian di pagi hari, yang penting gue udah sarapan terlebih dahulu. Gue nggak mau risiko habis makan durian dengan perut kosong. Plus, rugi banget. Masak habis makan durian langsung dikeluarkan lagi?
Hihihihi…
