…akhirnya keluar juga…

Di blog sebelumnya, cerita gue kan berhenti di minggu ke-37. Nah, sekarang gue mau cerita mulai dari masuk ke minggu 38 sampai proses kelahiran.

Seperti biasa, hari Sabtu gue harus check ke dokter kandungan. Pas check up di minggu ke-38 itu, dokter bilang kalo gue udah bukaan satu dan posisi bayi sudah sesuai. Oh iya, dokter gue ganti karena dokter yang megang gue itu ditugaskan keluar kota sama Kemenkes. Dokter pengganti gue ini jauh lebih komunikatif, memberikan banyak informasi dan gue bersyukur dia yang bakal megang gue pas melahirkan nanti. Dokter cuma pesan agar gue lebih banyak bergerak supaya keinginan gue untuk melahirkan normal bisa terwujud.

Di minggu ke-39, gue udah feeling kalau ini gue akan disuruh masuk ruang rawat ama dokter kandungan. Jadi gue udah bawa koper berisikan segala printilan orang lahiran & si jabang bayi. Bener aja! Dia nyuruh gue untuk masuk kamar perawatan karena udah bukaan 2. Urus segala proses administrasi, tes antigen, trus gue masuk kamar deh. Untuk mempercepat bukaan, perawat bilang kalo dokter minta dia agar gue diinduksi. Induksi pertama jam 4 sore dan perawat bilang akan segera terasa mulas. Hmmm, nggak ada yang terjadi sama sekali. Setelah 6 jam, efek induksi habis, para suster bingung dan akhirnya mereka menginduksi gue lagi atas anjuran si dokter.

Naaaaaaaah, induksi kedua ini yang berasa sakit banget dibandingkan yang pertama! Reaksinya pun cepat banget daripada yang pertama. Gue nggak bisa tidur karena sakitnya lumayan banget ituh. Tapi suster jaga yang bolak-balik cek gue lumayan heran kenapa nggak ada pergerakan bukaan yang berarti. Sejauh ini, gue cuma nambah 1 bukaan jadi bukaan 3. Mungkin karena kelelahan atau bisa jadi gue udah bebal, akhirnya gue bisa juga tidur setelah jam 1-2 dini hari.

Paginya, dokter kandungan gue itu datang ngecek. Dia nanya perkembangan dan dia bilang, dia akan coba induksi untuk yang ketiga kali alias yang terakhir. Kalau memang nggak berhasil juga, mau nggak mau gue harus caesar di keesokan paginya. Eh bener dooooooongg.. Induksi yang ketiga ini, gue udah kebal sama sekali. Asli nggak ada sakit-sakitnya! Gue tidur siang dengan pulas, hahaha… Jadi ya sudahlah, caesar it is!

Senin pagi, ibu datang ke RS, padahal gue udah bilang nggak usah. Cuma katanya, mana mungkin dia nggak nungguin gue lahiran. Gue masuk ruang operasi sekitar jam 10. Itu asli cepet banget. Gue sampe nggak pamitan ke mas Erwin karena dia lagi di lobi, gantian nungguin ama ibu. Pihak RS nggak membolehkan ada 2 penunggu pasien di 1 kamar, jadi mau nggak mau harus gantian.

Sudah di area kamar operasi, tapi gue belum masuk ke ruangannya karena gue harus dibius dulu. Ini kan bius lokal, jadi seharusnya gue bisa terjaga dan melihat operasi yang dilakukan sama dokter. Tapi yaaaaaa, abis disuntik itu, gue terbangun tepat di ruang operasi ketika si dokter mengeluarkan bayi dari perut. Gue inget banget dia bilang, “Ini bu, bayinya.” Reaksi gue cuma ngeliatin tuh bayi sambil ngebatin, “Bayinya kok gelap ya”. Trus bayinya dibawa keluar untuk dibersihin, denger suara dia nangis, terus tewas lagi. Tapi menjelang tewas, gue sayup-sayup mendengar si dokter bilang, “Ibu ada myom di luar rahim, saya ambil sekalian ya”. Setelah itu, gue terbangun di ruang kamar operasi, menanti untuk dibawa kembali ke kamar inap dengan kondisi teler berat, nggak bisa melek. Jadi nggak adalah itu yang namanya Inisiasi Menyusui Dini, haha…

Sampai di kamar, disambut mas Erwin & ibu yang ngasih selamat. Mas Erwin saat itu udah selesai mengazankan, tapi bayinya masih belum bisa dibawa ke kamar. Dia bilang kalo di lobi ada teh Fifi, Ge, dan Ayu. Tapi yang sempat gue temui hanya Ayu karena Ge dan teh Fifi dapet apesnya, dilarang masuk sama perawat.

Menjelang sore, ternyata badan gue drop. Asli itu menggigil banget, badan gak bisa digerakin, trus pendarahan berat. Bukannya mau hiperbola, tapi saat itu gue udah kayak mau “lewat”. Makanya gue minta tolong mas Erwin untuk panggil ibu yang ada di lobi lantai kamar, minta ampunannya. Gue nggak tahu berapa lama berlangsungnya, tapi menurut gue sih cukup lama. Malamnya, keadaan gue sudah mulai mendingan. Gue tanya perawat kapan bisa lihat bayinya. Dia bilang baru besok pagi akan diantar ke kamar.

Paginya, sekitar habis Subuh, pas jadwal suster keliling ngecek tiap kamar, dia ke kamar sambil bawa bayi untuk dimandiin. Itu pertama kalinya gue lihat bayi yang gue kandung, yang dibawa ke mana-mana selama 39 minggu 5 hari, yang buat muntah kadang tanpa alasan, bayi lelaki yang merupakan perwujudan dari doa yang gue panjatkan selama bulan puasa ke Allah SWT. Perasaan campur aduk, apalagi pas kasih ASI pertama kali. Ambyaaaaaaaaaarrr…

Dan terhitung tanggal 31 Mei 2021, gue memikul tanggung jawab baru yaitu menjadi ibu. Semoga gue bisa menjadi ibu yang baik untuknya.

Aamiin ya rabbal alamin.

If you like, share it 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial