Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2020, dan jujur, tahun ini beda sekali dari tahun-tahun sebelumnya. Semua ini tak lain dan tak bukan adalah karena pandemi wabah Corona yang melanda sudah hampir setahun. Semua rencana yang sudah diatur buyar, mau tidak mau harus bisa beradaptasi dengan situasi baru. Bukan hanya wabah yang membuat tahun ini berbeda, tapi beberapa kejadian yang bersinggungan langsung dengan kehidupan gue dan turut andil membuat perbedaan tersebut. Gue di sini mencoba menuangkannya bulan per bulan.
JANUARI
Setelah absen selama setahun, akhirnya kegiatan Cerdas Tanpa Batas dari Lebah bisa diadakan lagi. Kali ini lokasinya di Tuban, Jawa Timur. Kegiatan bersama Lebah di awal tahun itu selalu menjadi penyemangat tersendiri yang tak bisa tergantikan dengan apa pun. Sehabis kegiatan, seperti biasa gue dan Beezers akan berwisata dan tujuan kali ini adalah Lasem. Sebagai orang yang punya darah Lasem, berada di sini tuh kayak mengonfirmasi bahwa gue ini memang punya darah Cina walau mungkin hanya 1/8. Kenapa? Karena di daerah ini banyak sekali peninggalan sejarah Cina dan yang “dijual” memang warisan budaya mereka.
FEBRUARI
Mulai berseliweran berita tentang wabah virus Covid. Gue sih menganggapnya ini hanya flu biasa, nggak ada yang harus dikhawatirkan. Beberapa negara tetangga udah kena tetapi mayoritas orang Indonesia menganggap kalau negara ini nggak bakal kena karena virus itu. Di bulan ini gue juga sibuk ngurus persiapan untuk pergi ke Yordania lalu lanjut ke Aqsa & umroh sama ibu. Tapi, sekitar seminggu sebelum keberangkatan (27 Feb), dapat kabar kalau visa umroh ke Arab Saudi diberhentikan untuk sementara waktu karena virus ini. Asli gue panik dong, soalnya tiket udah di tangan. Kalo hotel kan bisa dibatalkan begitu saja karena belum bayar apa-apa. Di situ benar-benar yang namanya berharap tapi perlahan menyadari kalo nggak mungkin juga untuk memaksakan keinginan. Pasrah.
MARET
Gue memutuskan untuk tetap jalan sama ibu dan 9 orang lainnya ke Yordania dengan harapan tetap bisa lanjut ke Aqsa. Kalau umroh sih udah gue batalkan dari Jakarta. Sehari setelah sampai di Yordania, gue dan grup sudah siap dalam perjalanan ke Aqsa, dan ternyata, pemerintah Yordania mengeluarkan pengumuman bahwa semua perbatasan ke Israel ditutup. Pupus sudah harapan untuk menyeberang ke Aqsa. Gue sih bisa menerima kenyataan ini secara gue udah pernah ke Aqsa, tapi gue sedih banget lihat raut muka ibu yang kecewa, yang walau berusaha ditutupi, tetap saja keliatan. Gue nggak tahu, apakah gue masih bisa ngajak ibu ke Aqsa secara ibu semakin lama semakin tua, semakin lemah fisiknya. Akhirnya grup gue menjelajahi Yordania selama seminggu, dan untungnya negara ini menyenangkan untuk dijelajah. Gue sendiri udah pernah ke Yordania, tapi negara ini benar-benar tidak membosankan.
Tepat sehari setelah pulang dari Yordania, pemerintah Indonesia mengumumkan diadakannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), yang artinya sekolah dan kantor harus dari rumah, operasional bisnis dikurangi, dan segala hal-hal lainnya yang bertujuan untuk mengurangi penyebaran virus. Mas Erwin pun terkena dampaknya dan harus kerja dari rumah.
APRIL
Di bulan ini, ibu Tjuk merayakan ulang tahun ke-80. Bayangkan, 80 tahun! Gue sendiri sih nggak pernah berpikir gue akan bisa mencapai angka 80. Kayaknya tuh udah nggak punya teman seangkatan dan senasib, hahahaa… Berhubung masih PSBB, jadi perayaannya kecil aja, makan siang di rumah.
Akhir April ini pula, bulan puasa dimulai. Berhubung pemerintah melarang diadakannya shalat tarawih berjamaah, jadi mau tidak mau, semua diadakan di rumah. Sedih sih, tapi ya mau gimana lagi? Mesjid pada tutup. *hiks…
MEI
Di bulan ini, Lebah merayakan ulang tahun ke-12. Udah 4 bulan kami nggak bertemu fisik. Jadi untuk memenuhi rasa rindu tak terkira, perayaan diadakan secara virtual sekalian buka puasa bersama dan tausyiah.
Berhubung mesjid masih ditutup dan pemerintah menambahkan bahwa tidak boleh ada kegiatan shalat Ied di lapangan, maka semua umat Muslim di Indonesia mengadakan shalat Ied di rumah. Begitu pula di rumah. Mas Erwin sampe print khutbah yang mau dia bawain biar gak salah ngomong. Kocak sih, karena ini jadi pengalaman pertama yang tak terlupakan.
JUNI
Alhamdulillah PSBB sudah diangkat. Gue dan mas Erwin nggak menyia-nyiakan waktu. Tiap wiken gue ama mas Erwin pasti cari makan di luar. Daerah yang didatangi ya dekat-dekat aja, masih di selatan. Tapi ya kami berdua tetap harus awas dan ikuti protokol kesehatan, yaitu pakai masker, cuci tangan, bawa hand sanitizer, bawa alat makan sendiri, semprot alkohol/disinfektan ke meja/kursi yang mau ditempati. Gue ama mas Erwin sepakat, kalo tempatnya rame, langsung cabut. Jadi kami jalan itu pasti di jam yang orang belum banyak keluar.
JULI
Mbak Desy datang dari Amrik untuk liburan. Kalau Nadya sih udah dari bulan Juni. Mereka benar-benar memanfaatkan waktu, dan mereka datang di saat yang tepat karena PSBB sudah tidak ada lagi. Kangen juga ama kakak gue ini, soalnya terakhir ketemu itu setahun lalu, dan waktu itu cuma seminggu.
Ulang tahun gue di tahun ini terasa spesial karena tepat dengan Iduladha. Untungnya udah nggak ada PSBB, jadi bisa shalat Ied berjamaah walau tetap ada protokol kesehatan yang harus ditaati, yaitu jaga jarak antar jamaah. Dan di tahun ini pula, gue kembali merayakan ulang tahun yang ramean banyak orang, sementara selama 11 tahun terakhir, gue biasanya melipir sendirian, benar-benar menghindari keramaian.
AGUSTUS
Ini benar-benar bulan yang menurut gue paling menguras emosi. Pertama, setelah sebulan sakit syaraf parah, Belek nggak kuat dan mati dalam usia 1 tahun 1 bulan. Berat banget rasanya mengingat perjalanan kucing ini yang kurang beruntung dibanding kakaknya, si Oren. Rentan dari lahir, sempat hilang 3 hari pas puasa, kena virus pas di klinik kucing, dan akhirnya virus itu menyerang ke syaraf. Berharap dia bisa sembuh, tapi akhirnya gue pasrah, berdamai dengan diri, ikhlas kalau Belek harus mati. Memang benar kata dokter hewan gue, ketika pemilik binatang udah ikhlas, maka dia akan pergi dengan sendirinya. Emosi gue campur aduk selama seminggu. Tiap hari gue ke kuburan Belek bersama Oren & Serak yang juga merasa kehilangan.
Kedua, di Sabtu pagi yang cerah nan tenang, mas Erwin jatuh dari atap pas lagi pasang panel surya. Untung banget bapak-bapak pada ngumpul di depan rumah, jadi mereka langsung bereaksi cepat nolong. Alhamdulillah gue nggak panik juga. Langsung bawa mas Erwin ke RS untuk rontgen, cari tahu apakah ada patah tulang. Untung banget badannya gemuk, jadi lemak-lemaknya itu menutupi tulangnya dan mencegah terjadinya patah tulang. Semuanya baik-baik saja, kepala, dada, punggung. Nggak ada luka dalam sama sekali. Makanya cuma sempat dirawat di 1 malam lalu berobat jalan. Fiyuh!
SEPTEMBER
Dalam rangka merayakan tahun kedua pernikahan, gue dan mas Erwin melipir ke Bandung selama 3 hari. Berhubung mas Erwin belum fit untuk nyetir, jadinya gue yang nyetir selama perjalanan. Terinspirasi dengan perjalanan mbak Desy yang lewat Puncak menuju Bandung pas dia di sini, gue pun tertarik untuk lewat sana lagi. Sarapan di Puncak Pass, melewati berbagai spanduk paslon yang singkatannya kocak-kocak sepanjang Cianjur, jalan seputaran Braga, dinner di the Valley, hang out ama temen-temen HOA 94 dan tentunya beli oleh-oleh, hahahaa…
OKTOBER
Kabar baik akhirnya datang juga. Deg-degan, tapi yakin kalau semua ini sudah diatur oleh Allah SWT. Yang bisa gue lakukan hanya bisa berdoa semua akan berjalan baik-baik saja. Bismillah!
NOVEMBER
Mengawali bulan ini dengan rawat inap di RS selama 3 hari. Gue muntah parah sampai dehidrasi, nggak bisa masuk minuman, apalagi makanan. Tapi ya untung setelah itu gue mulai membaik walau tetap masih muntah. Dokter bilang sih kalo mau muntah ya muntah aja, jangan ditahan.
Bulan ini diakhiri dengan berita yang mengejutkan dan menyedihkan. Salah seorang relawan Beezers yang bergabung ke Lebah karena gue, Inung, meninggal akibat kecelakaan sepeda tunggal di Sentul. Beritanya benar-benar bagai petir di siang bolong. Apalagi, dua minggu sebelumnya dia sempat main ke rumah sama Nonie & teh Fifi. Gue terima kasih banget ke Tuhan karena pernah dipertemukan dengan Inung di dalam hidup ini, yang sepanjang ingatan gue, nggak pernah cemberut & bermuka masam sekali pun. Inung, semoga elo sudah hidup tenang di sisi Allah SWT ya. Kangen banget ama elo…
DESEMBER
Tidak terasa sudah menginjak bulan terakhir di tahun ini. Banyak sekali teman-teman gue berbintang Sagitarius yang ulang tahun di bulan ini, termasuk mbak Desy & Abi. Tidak ada perayaan fisik karena kalau pun ada, gue sudah telanjur malas untuk berada di dalam keramaian. Mungkin aneh, tapi kayaknya gue sudah mulai terbiasa dengan berada di lingkaran kecil. Gue juga udah nggak ada lagi keinginan untuk jalan-jalan keluar Jakarta. Setiap kali ditanya apakah gue kangen jalan-jalan, tentunya iya. Tapi kapan gue bisa jalan-jalan lagi? Entahlah. Gue udah dalam taraf enggan membuat rencana.
Tahun ini benar-benar menguji kesabaran semua orang. Terlepas dari semua drama naik turun yang terjadi di tahun ini, gue tetap bersyukur atas segala yang terjadi. Bersyukur masih diberi rumah tempat berlindung, kesehatan, pekerjaan, dan yang terpenting, nafas untuk terus hidup dan memberi manfaat bagi sesama.
Terima kasih Allah atas semuanya. Semoga tahun 2021 membawa kehidupan yang lebih baik bagi semua orang. Aamiin ya rabbal alamin.