Dua hari yang lalu, gue mengantar mbak Desy ke bandara. Setelah hampir 3 minggu di Jakarta, saatnya dia balik ke Arlington, kembali menjalani hari dan rutinitasnya.
Terus terang, gue orang yang nggak suka dengan momen perpisahan. Padahal kalau dipikir-pikir, gue kan terhitung cukup sering bepergian, jadi seharusnya gue udah terbiasa dengan momen ini. Tapi entah ya, selalu ada perasaan kehilangan yang sama yang nggak gue sukai. Keesokan hari setelah perpisahan tuh pasti terasa sekali ada yang hilang. Makanya gue kadang mencoba menyiasatinya dengan mengucapkan kata, “I’ll see you soon“, dan bukan bilang, “Goodbye“. Cuma ya kadang tetap aja nggak ngaruh sih, hahahaa.. KZL!
Perasaan kehilangan itu akan lebih terasa ketika waktu kebersamaannya lebih lama. Mau itu pas liburan bareng teman-teman dekat ke suatu daerah, pas liburan sendiri dan mengunjungi teman (kadang menginap untuk beberapa waktu, bermain sama keluarga dan teman-temannya), atau pas kakak dan keponakan gue lagi datang berlibur. Sehari sebelum bubar jalan tuh biasanya suka mikir, kapan lagi ya bisa ketemuan. Gue juga tuh perlu waktu lagi untuk menyesuaikan diri ke keadaan sebelum perpisahan terjadi. Itu juga mungkin yang jadi salah satu alasan kenapa sebisa mungkin gue menghindari perpisahan.
Tapi ya, macam pepatah aja. Di mana ada pertemuan, di situ ada perpisahan. Ini sesuatu yang takkan mungkin dihindari. Tinggal gimana pinternya kita ngatur suasana hati. Perjalanan panjang untuk bisa kendalikan suasana hati. Kadang bisa dikontrol, kadang nggak. Kalo lagi nggak bisa, byaaaaaar, keran nangisnnya bocor deeeehh…
Akhirnya hari ini gue bisa merasakan bagaimana kerja untuk lokakarya daring. Selama ini, gue kan hanya mendengar dari teman-teman gue yang jadi juru bahasa tentang suka-duka bekerja untuk pertemuan daring. Gue sih bukan kerja sebagai juru bahasa (bisa mati berdiri gue, bos!), tapi sebagai notulis.
Walau sudah ada briefing dua hari sebelumnya, tapi gue cukup deg-degan karena khawatir ada masalah di koneksi, rekaman, dsb. Entah kenapa, kalau gue akses Zoom dengan laptop, pasti ada aja kejadian hilang sinyal. Makanya 30 menit sebelum mulai acara, gue udah sibuk atur strategi. Gue cukup bersyukur karena gue ada ponsel yang nggak terpakai, punya alat perekam, dan pengeras suara. Jadi strategi gue adalah akses utama gue ke Zoom pakai laptop, pengeras suara dan akan merekam suara dari ponsel sehari-hari gue. Sementara untuk cadangannya, gue akan akses Zoom lewat ponsel cadangan dan merekam suaranya dengan alat perekam portabel.
Gue senang banget karena acara pembukaan berjalan lancar. Tapi mulai masuk ke acara kedua, Zoom di laptop gue mulai cari gara-gara. Gue yakin karena koneksi, makanya gue putuskan tethering ama ponsel. Eh ternyata, baiknya cuma sebentar. Untung banget lagi giliran tandeman gue yang buat notulen, jadi gue bisa utak-atik sambil mikir. Akhirnya ponsel yang fungsi awalnya merekam suara dari laptop harus jadi sarana utama untuk akses Zoom. Urusan alat beres sudah.
Tapi, masih ada kendala lain. Ternyata suara juru bahasa dan narasumber bertabrakan, sementara gue harus mendengarkan suara dari juru bahasa. Asli kacau sih itu. Untung aja tabrakan suaranya nggak lama, tapi masalahnya, kejadian tabrakan ini cukup sering karena tiap ganti pembicara baru, mereka nggak ngerti harus ngapain supaya nggak tabrakan.
Di luar kendala teknis, menurut gue, kerja daring begini lebih banyak enaknya daripada nggak enaknya. Kenapa? Karena yang pertama, gue nggak perlu munculkan muka. Tapi gue sih tetap rapih, berpakaian batik dan blazer biar suasana kerjanya dapat. Nah karena nggak memunculkan muka, jadinya pas bukan giliran gue untuk buat notulen. gue bisa sambi dengan makan, masak, mondar-mandir ke kulkas, ngemil, toilet.
Secara keseluruhan, pengalaman pertama gue hari ini sungguh menyenangkan. Kalau ada lagi tentunya gue nggak akan nolak. Ya iya laaaahh, rezeki nggak boleh ditolak dong.
Sekarang sudah malam. Badan enak banget selonjoran kena tempat tidur setelah duduk aja nyaris 9 jam. Saatnya tidur untuk memulihkan tenaga supaya besok nggak loyo.
Sejak wabah Covid ini mulai merebak, pemerintah dan berbagai lembaga gencar sekali menyuruh warganya untuk pakai masker. Awalnya dianjurkan pakai masker medis, makanya sempat ada masa ketika masker hilang dari pasaran. Terus berubah lagi jadi masker kain karena yang medis diutamakan untuk tenaga medis dan mereka yang sakit.
Terus terang aja, gue nggak bisa pakai masker medis ijo itu. Kenapa? Karena bahannya buat gue jerawatan. Asli! Jadi gini… Kalian tahu kan kalo waktu awal-awal Gojek masih cari pelanggan, semua pengemudinya taat prosedur. Sebelum naik, mereka akan kasih masker ke penumpang. Gue sebagai penumpang yang taat aturan (tsah!) ya terima-terima aja. Nah tapiiiiii, efeknya tuh gue besok langsung jerawatan. Gue tuh nggak pernah mikir kalau ini karena masker, tapi jarena jalanan yang sangat berdebu. Cuma, setelah 3x gue pake masker kain dan berujung dengan jerawat keesokan harinya, sementara kalo pake masker kain yang karetnya kayak pinggiran celana dalam itu gue aman-aman aja Jadinya gue simpulkan sendiri, kalau ada kandungan di masker medis itu yang nggak cocok di muka gue. Padahal ya, gue kan dulu mahasiswa suka dipanggil Badak, harusnya kulit gue juga sekuat badak (ini sedikit nggak nyambung, sodara-sodara).
Ada untungnya juga gue nggak bisa pakai masker medis, jadinya gue punya alasan untuk beli masker kain dengan berbagai motif. Zaman gue masih suka naik Comm Line, gue seneng banget beli masker yang dijual di depan stasiun. Udahlah motifnya batik, agak tebal, trus murah (ini penting!).
Sekarang, masker menurut gue udah jadi statement of fashion. Banyak banget yang buat masker dengan motif lucu. Kalo gue milih mau beli masker, motif itu nomor dua. Yang paling penting di gue adalah maskernya harus tali yang diikat atau serut (adjustable loop). Gue nggak bisa pakai masker yang talinya disangkut ke leher. Selain ribet karena gue pake kerudung, yang jelas, kuping gue akan langsung merah, gatal dan kadang bisa pusing seharian. Ngeselin banget emang, hahahaa…
Tadi pagi gue iseng, menata sambil hitung ada berapa masker gue. Ternyata ada 21, gaeeeessss… Ada beberapa masker yang emang udah lama gue punya, tapi emang sebagian besar baru gue beli beberapa waktu terakhir ini.
Well, meminjam kata teman gue yang pembuat masker (dan gue jadi pelanggan tetapnya), “It’s never too many for these days”.
Kalau bapak gue masih hidup, hari ini dia akan merayakan ulang tahun yang ke-79 (menurut KTP). Kenapa menurut KTP? Karena menurut cerita ibu dan bapak, bapak gue itu lahirnya tahun 1942. Tapiiiiii, berhubung ibu gue itu kelahiran tahun 1940, bapak cari jalan tengah biar gak jauh banget bedanya. So, voila! Dibuatlah dua-duanya lahir di tahun 1941.
Kocak juga sih kalau dipikir-pikir. Soalnya zaman sekarang sepertinya sudah lumrah kalau cowoknya lebih muda dari ceweknya. Tapi mungkin dulu masih belum banyak. Coba kalau Suzanna eranya sama ama bapak dan ibu gue, mungkin nggak bakal ada tuh drama ganti tahun lahir ini. Buat yang nggak tahu Suzanna, beda usia dia dan suaminya, Cliff Sanggra itu 17 tahun! Itu ibaratnya, lo nikah usia 16 tahun, trus hamil, dan punya anak usia 17, nah Cliff ini adalah anak pertama lo.
Tapi sudahlah, ngapain juga bahas Suzanna, nggak penting. Mending bahas bapak gue aja. Foto ini waktu dia kira-kira usia 22-24 tahun, masih di Marinir. Ini gue simpen di dompet gue. Jadi, ke mana pun gue pergi, dia selalu ikut. Tiap ambil duit di dompet, wajahnya yang pertama kali terlihat. Dia juga saksi bisu ketika dompet gue menangis karena nggak ada duit tersisa, hahahaha…
Anyway, bapak gue ganteng yak! Selamat ulang tahun ya, pak Baso…
Ulang tahun gue di tahun ini spesial karena bertepatan dengan Iduladha, jadi semua orang merayakannya. Kapan lagi coba, ulang tahun lo dirayakan seluruh dunia? Nggak semua orang bisa mengalaminya. Yekaaaaaaannn?
Nah, berhubung mbak Desy lagi berkunjung ke Jakarta dan dalam suasana Lebaran juga, akhirnya kepikiran untuk recreate foto keluarga yang dulu juga dibuat waktu Lebaran walau itu pas Idulfitri.
Gue lupa foto dulu itu tahun berapa, tapi yang jelas sih sebelum tahun 2010. Ya katakanlah sekitar 10 tahun yang lalu. Kalau kedua foto diperhatikan, terlihat jelas bahwa dalam 10 tahun, ibu Tjuk memutih dan menyusut sekali ya, hehehe…
Oya, berhubung tiap ngepos foto ibu trus banyak yang komen kulitnya yang putih kayak porselen, gue sekalian aja mau jelasin. Jadi ibu itu bukan putih dari sananya, tapi kena penyakit vitiligo. Itu loh, penyakit kulit yang bercak-bercak putih. Kulit ibu sih emang kuning (maklum, ada turunan Cina), trus bercak-bercak putih di ibu ini pintar milih tempat munculnya. Jadi nggak kelihatan ama publik.
Menurut dokter, salah satu pemicu munculnya penyakit ini karena stres tapi disimpan sendiri. Sepeninggal bapak, ibu memang selalu bilang baik-baik saja, dan segala sesuatu memang berjalan seperti biasa. Tapi ternyata, semua ibu pendam sendiri dan mulailah bercak-bercak putih itu muncul. Entah berapa banyak dokter kulit yang didatangi, berapa banyak obat yang dipakai. Lalu pada akhirnya, daripada mengembalikan warna kulit kembali ke keadaan normal, ibu akhirnya memutuskan untuk sekalian pakai krim pemutih saja. Seiring perjalanan waktu, sel pembuat pigmen tubuh ibu bekerja sangat lambat nyaris berhenti. Itulah mengapa kulit ibu putih sekali, plus sensitif sama sinar matahari.
Jadi begitulah ceritanya. Pesan gue, kalau kalian stres, carilah teman untuk diajak bicara, jangan simpan sendiri ya. Kesedihan harus dikeluarkan, jangan ditekan sampai bertumpuk-tumpuk yaaaa…
Tepat setahun yang lalu di tanggal 26 November, menandakan dimulainya perjalanan darat gue dan Nonie ke beberapa taman nasional di Amerika Serikat. Selama hampir 3 minggu, kami berdua menjelajah 4 negara bagian dengan mobil sewaan, merasakan udara yang kadang tak sama dari satu tempat ke tempat lain (bahkan pernah dari tempat yang panas terik ke dingin menggigil dalam 1 hari), mengalami hal-hal yang bisa membuat kami tertawa atau bertanya-tanya tanpa kesimpulan berarti, banyak sekali kisah-kisah seru yang kami alami berdua dan kalau kami lagi kilas balik, pasti mencuat rasa rindu untuk kembali ke masa itu.
Gue tidak akan bercerita panjang lebar tentang hal-hal yang kami alami karena bakalan panjang banget. Tapi gue lebih pengen bercerita tentang teman seperjalanan, Nonie. Gue ini memang suka jalan-jalan, bisa cepat adaptasi kalau bertemu dengan teman baru di perjalanan, tapi untuk memutuskan jalan-jalan berdua, gue ini tipe yang sangat pemilih. Gue kenal Nonie dari komunitas sosial yang gue ikuti. Untungnya di Lebah itu, mengingat kegiatan sosial kami itu kebanyakan di luar Jakarta, sehingga cukup banyak kegiatan yang membuat kami menghabiskan waktu 24 jam lebih bersama karena kami harus pergi sehari sebelum kegiatan. Selain itu, di Lebah itu juga tidak melulu berkegiatan sosial, tetapi beberapa kali jalan/ piknik bersama. Jadi ketika sedang membahas Amerika dan keinginan Nonie untuk road trip, di saat itu pula gue langsung bilang ke dia untuk segera susun rencana. Gue merasa gue sudah cukup mengenal karakter Nonie, dan gue yakin kalau nggak akan ada kejadian berantem sama Nonie selama perjalanan.
Persiapan pun dilakukan, tapi yang paling efektif itu mungkin 1-2 bulan sebelum keberangkatan. Walau gue sudah paham karakter Nonie, tapi selama persiapan itu, gue beberapa kali bilang ke Nonie kalau kita nggak boleh berantem. Kenapa? Karena kalau kita berantem, pasti perjalanan akan nggak enak banget. Sementara untuk pulang dan cabut dari perjalanan itu susah, karena pasti jauh dari bandara, hahahaaaa… Gue sendiri yakin sih, kalau nggak akan ada kejadian berantem sama Nonie.
Dan ternyata, keyakinan gue itu terbukti. Selama perjalanan, nggak ada sedikit pun perselisihan. Nggak usah lah perselisihan yang besar, wong yang kecil aja nggak ada. Bahkan, gue merasa kami saling melengkapi. Ketika gue panik, dia yang menenangkan gue. Dan begitu juga pas dia lagi kelimpungan cari barang, gue yang gantian kalem. Kalimat yang paling sering diucap kalo lagi kejadian panik-panikan atau lupa taro barang di mana itu cuma dua, “Pasti bisa!” atau “Pasti ada!”. Gue suka sama orang-orang yang punya aura positif, dan Nonie tuh positif banget. Makanya, gue nggak merasa ada kejadian duka atau sedih selama perjalanan bersama itu. Plus, kami berdua itu orang yang sama-sama nggak ngoyo, nggak buru-buru dikejar waktu, nggak yang harus melakukan satu kegiatan di satu tempat misalnya, “Kita mesti kejar matahari terbit!” atau “Kita harus capai puncak Half Dome”. Semuanya mengalir aja, disesuaikan dengan situasi dan keadaan. Soalnya kan ada tuh orang yang ngoyo, dan tipe orang ini buat lelah hayati, hahahaaaaaa…
Banyak banget kejadian seru yang kami alami dan sering memunculkan rasa rindu untuk mengalami kejadian-kejadian seru bin kampret itu bersama kembali. Mudah-mudahan aja bisa kami bisa pergi bersama lagi, walau entah kapan 🙂
Navigator merangkap pemberi makanan biar nggak ngantuk 🙂
Dua anak stres ama cuaca, hahahaaa…
TKP lupa angkat karpet karet mobil, dan baru diambil 12 jam kemudian. Takjub nggak ada yang nyuri, hahahaaa…
Seneng banget dah dapat salju di musim gugur 🙂
Tiap mau makan, ya harus masak dulu
Kelakuan kalo udah bingung mau gaya apa lagi *orang gila*
Senangnya nggak perlu pake jaket!
Ekspresi kaget karena waktu mau swafoto, tiba-tiba orang Alaska datang untuk bantu motoin kita.
Waktu gue SMP, ketika gue ditanya apa cita-cita gue, gue bilang kalau gue ingin keliling Indonesia, ke 27 provinsi (Ya! Indonesia di akhir 80an cuma punya 27 provinsi, gak 34 kayak sekarang). Gue pengen jadi pemandu wisata supaya gue bisa keliling Indonesia gratis, hahahaa. Gue merasa kalau dalam hal cita-cita, gue bukan kayak anak alay pada umumnya yang suka berubah haluan. Masuk SMA, memang gue ada keinginan untuk menjadi arkeolog. Tapi alasan di balik itu juga supaya gue bisa menjelajah Indonesia dan mencari benda-benda purbakala, menelisik sejarah Indonesia di masa lalu. Masih ada hubungannya dengan berkelana di daerah-daerah di Indonesia. Sayangnya, guru sejarah gue memberi gue kenyataan pahit, bahwa menjadi arkeolog di Indonesia itu tidak akan pernah dihargai dan tidak akan menghasilkan uang untuk bertahan hidup. Tapi, terima kasih lho, bu! Karena apa yang ibu katakan tentang profesi arkeolog itu benar adanya.
Kembali lagi ke cita-cita gue untuk jadi pemandu wisata, ok? Sebagai orang tua yang baik, maka pas gue mau naik kelas 2 SMA, bapak ibu gue mencari tahu sekolah yang cocok untuk mewujudkan cita-cita gue itu. Akhirnya didapatlah satu sekolah, namanya Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung, dan gue diberi tahu mengenai sekolah ini sama bapak dan ibu. Pas liburan kenaikan kelas, gue diajak mereka ke Bandung untuk melihat langsung sekolah ini. Gue benar-benar makin yakin untuk sekolah di STPB setelah gue lihat langsung dan mengagumi betapa kerennya seragam mahasiswa di situ.
Singkat cerita, gue sekolah di STPB walau tidak di jurusan pariwisata sesuai keinginan gue karena bapak maunya gue ambil D-IV perhotelan. Setelah lulus, gue pun tidak kerja di industri perhotelan karena pas gue lulus, Indonesia lagi dilanda krismon. Jadi alih-alih merekrut pegawai, industri tersebut malah kembang-kempis, berusaha bertahan hidup dengan memecat banyak karyawan. Gue pun banting setir, bekerja di bidang yang tidak sesuai cita-cita, bahkan tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan. Satu hal yang amat sangat gue syukuri bahwa gue kuliah di STPB itu adalah, sekolah ini sangat menempa mental gue, membuat gue nggak kaget akan dunia kerja. Jika dibandingkan dengan lulusan universitas lain, lulusan STPB angkatan gue dan beberapa tahun di bawah gue, masih terbilang bermental baja, bisa ditempatkan di segala situasi, nggak cengeng kayak anak-anak milenial yang bentar-bentar ngadu ke orang tuanya terus orang tuanya menghadap sekolah dan petantang-petenteng (bahkan orang tua yang lulusan STPB itu lebih bermental baja dalam mendidik anaknya, nggak kayak orang tua lainnya yang rempong, yang rumpian, yang bentar-bentar ngatur sekolah anaknya #kenyataan #alumnienhaiijuwarak #maapkalocarigaragara #makanyajangansukapostingdimedsosbiargakkeliatankalolorempong).
Tapi, bukan berarti bekerja di bidang yang tidak gue sukai sama dengan mengubur cita-cita gue untuk keliling Indonesia. Gue masih meluangkan waktu untuk berlibur menikmati keindahan Indonesia. Terutama setelah gue tidak bekerja kantoran lagi, gue punya fleksibilitas waktu yang sangat tinggi, memungkinkan gue untuk berilbur kapan saja gue mau, selama anggaran liburannya sesuai, hahahaaa (ini penting!). Gue berlibur bisa sendiri saja, bersama ibu, beberapa teman dekat, atau bahkan sekumpulan teman yang benar-benar gue baru kenal saat mau berilbur.
Akhirnya pada Juni lalu, gue pun bisa mencapai keinginan gue untuk menjejakkan kaki ke 34 provinsi yang ada di Indonesia. Gue sendiri merasa kalau tempat-tempat yang gue datangi itu masih tergolong destinasi mainstream, walau ada beberapa tempat yang memang cukup anti-mainstream karena perjalanannya cukup melelahkan atau memang tidak banyak yang tahu bagaimana menuju ke destinasi tersebut.
Jika ditanya tentang perasaan gue setelah mewujudkan cita-cita gue, tentu gue akan jawab kalau senang luar biasa. Tapi itu tidak seberapa dibandingkan proses dalam mewujudkan cita-cita itu. Menikmati tempat-tempat indah Indonesia; berkomunikasi dengan warga setempat; melihat lingkungan yang kadang cukup membuat miris dan berkata dalam hati, “Seandainya gue punya duit banyak, gue akan…”; segala pengalaman mengesankan, mulai dari pengalaman baik, buruk, menegangkan, hampir mati, lucu, semua itu yang menurut gue lebih penting untuk diingat dan dirasakan.
Ada yang bertanya ke gue, mana tempat yang paling bagus dari semua tempat yang sudah dikunjungi. Terus terang gue nggak bisa jawab, karena Indonesia ini surganya tempat-tempat indah. Memang ada tempat yang biasa saja, yang hanya terlihat bagus dalam foto, tapi itu hanya sebagian kecil. Yang jelas, laut Indonesia itu sungguh sempurna! Itulah mengapa hingga detik ini, gue tidak pernah mau yang namanya berlibur ke pantai/laut di luar negeri, karena tidak ada yang menyamai keindahan laut Indonesia. Gue bahkan pernah satu minggu di Hawaii (gue bahkan lupa nama pulaunya), dan tidak satu kali pun gue menjejakkan kaki di pantai mereka yang konon kata indah dan wajib didatangi itu, hahahaaa.
Indonesia itu surganya keindahan alam. Walau tak jarang harus merogoh kocek lebih dalam untuk datang ke tempat-tempat tersebut dibandingkan pergi keluar negeri, tapi gue lebih puas jika gue pergi ke tempat tersebut dibandingkan keluar negeri. Mungkin nasionalis gue receh, tapi dengan berilbur, gue sangat bersyukur kalau gue dilahirkan sebagai orang Indonesia, negeri super kaya ini, dan bertekad untuk berkontribusi membangun negeri ini, entah bagaimana caranya.
Mumpung lagi suasana liburan, gue pengen berbagi cerita tentang visa negara yang sudah gue kunjungi. Kalau cerita visa Schengen, Amerika, Selandia Baru atau Inggris, agak kurang seru karena udah terlalu umum. Gue mau cerita tentang visa negara yang beda, Israel.
Akhir tahun 2016 lalu, gue kepikiran untuk pergi ke Yerusalem. Gue pengen banget liat Masjidil Aqsa. Gali informasi sana-sini, rata-rata kalo mau ke Aqsa dari Indonesia, pilihan gue cuma dua, ikut umroh atau ikut grup gereja. Jelas dua-duanya bukan pilihan yang sesuai buat gue. Jadilah gue sibuk telusuri informasi gimana caranya buat visa Israel tanpa harus ikut grup-grup berbalut agama. Akhirnya gue ketemu satu artikel kalau orang Indonesia itu bisa buat visa Israel di Singapura karena kedutaan besar Israel terdekat dari Indonesia ya yang di Singapura itu. Gue ke situs mereka, tanya-tanya, jelasin maksud dan tujuan gue, berapa lama gue di sana, dan akhirnya dikirimi formulir ama mereka. Asli, isian formulirnya banyak banget. Ternyata bukan hanya isiannya yang banyak, tapi ada hal-hal yang gue perlu minta bantuan dari agen perjalanan gue di Yordania. Cukup lama bolak-baliknya urusan visa Israel antara gue, kedutaan Singapura dan agen perjalanan di Yordania yang cerita singkatnya, agen perjalanan gue menolak membantu dan kedutaan Singapura juga nggak bisa proses kalau dokumen yang diminta nggak bisa disediakan. Pusing dong gue, secara berangkat tinggal 1,5 bulan lagi, sementara gue maunya visa Israel beres dulu baru gue urus visa-visa negara Timur Tengah lainnya.
Akhirnya gue iseng cari kedutaan Israel di negara lain yang paling dekat dengan Indonesia. Ternyata ada dua negara, Thailand dan Filipina. Berhubung jadwal penerbangan paling sering dari Indonesia itu ke Thailand daripada Filipina, akhirnya gue putuskan untuk email kedutaan besar Israel di sana sembari berdoa supaya mereka bisa memproses visa gue. Waktu pertama kali email ke mereka, gue tuh deg-degan banget nunggu jawabannya. Apalagi saat itu, gue lagi survei untuk kegiatan sosial yang daerahnya susah sinyal. Jadi ketika mereka kasih jawaban berdasarkan penjelasan maksud, tujuan dan durasi gue di sana bahwa gue bisa mengajukan permohonan visa turis dan minta gue untuk segera kirim salinan dokumen yang menjadi persyaratan visa, gue senewennya minta ampun. Gue ampe pengen banget ngebanting telepon karena sinyalnya penuh, tapi pas mau kirim lampiran, nggak bisa sama sekali.
Setelah mereka lihat salinan dokumen gue, mereka kirim email formulir pengajuan visa. Gue udah deg-degan bakalan ribet. Tapi mau tahu? Formulirnya cuma 1 halaman saja, saudara-saudara! Dan pas gue tanya berapa lama proses visanya, mereka bilang bisa 1 hari! Gue nggak ngerti ya, kenapa kedubes Israel di Singapura itu ribet banget. Formulirnya ampe 5 halaman terus prosesnya paling cepat 1 bulan. Iya, 1 bulan dan itu pun paling cepat! Gue semangat banget isi formulir itu karena isian dan persyaratannya standar banget. Asli, gue seneng banget ngisinya. Cuma jeda 1 hari dari gue kirim formulir dan mereka nanya ke gue, kapan mau datang ke Thailand karena gue harus datang langsung dan bawa persyaratan yang salinannya sudah dikirim via email. Orang kedutaannya cuma kasih pesan, datang sebelum jam 9 dan harus kasih tahu seminggu sebelum kedatangan. Tanpa menyia-nyiakan waktu, gue langsung cek jadwal pesawat (berikut harganya jelas) seminggu kemudian. Akhirnya, setelah menghitung waktu dan harga, gue berangkat naek pesawat paling malam ke Singapura dulu, bermalam di Changi, lalu lanjut ke Bangkok keesokan harinya. Gue belum beli tiket pesawat balik karena gue nggak tahu, apakah visa gue akan selesai hari itu juga atau nggak.
Sampai di Bangkok, langsung ke kedutaan. Ternyata kedutaannya ada di gedung, dan mereka punya petugas keamanan sendiri yang pakaiannya pun tidak seperti petugas keamanan. Asumsi gue, karena negara ini tahu banyak musuhnya, jadi mereka nggak mau mencolok. Paspor gue dicek, dan gue harus nunggu sekitar 15 menit di bawah. Setelah dibolehkan naik, gue nggak langsung naik, tapi dibawa dulu ke pos mereka yang ada di samping gedung untuk simpan tas dan handphone di loker. Jadi gue ke atas hanya bawa persyaratan dokumen plus dompet.
Diantar sampai atas pake lift, pas keluar lift, langsung dicek, ditanya-tanya ama orang kedutaan tujuan mengajukan permohonan visa. Setelah itu, baru gue diperbolehkan masuk. Ada 1 orang di konter visa, jadi mau nggak mau gue harus nunggu. Nggak lama, giliran gue. Setelah dilihat semua persyaratannya, gue ditanya apakah gue udah ada tiket pesawat pulang. Gue bilang jujur aja ke staf kedutaan kalau gue belum ada tiket dan harapannya, gue bisa dapat visa hari ini supaya gue bisa pulang malam ini juga. Dia nggak bilang apa-apa selain nyuruh gue untuk nunggu.
Karena nggak ada handphone, AC ruangan dingin, nggak pake jaket, TV satu-satunya di ruangan siarannya pakai bahasa Israel dan nggak ada majalah yang dipajang di sana untuk dibaca, jadi menurut gue, itu adalah masa menunggu yang paling lama dan paling garing. Untungnya, sejam kemudian nama gue dipanggil dan gue disodorin selembar kertas yang ternyata adalah visa Israel gue. Senang bukan kepalang gue!
Keluar dari kedutaan, gue langsung cari tiket pulang dan setelah dapat, baru berasa kalo gue lapar berat dan pastinya gue nggak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk berbelanja sembari mengisi waktu luang sebelum pulang. Oya, tarif visa Israel ini cuma sekitar 350 ribu, tapi ditambah tiket pesawat, makan dan transportasi di sana, yaaah, adalah sampe 5 juta sendiri. Sungguh menjadi visa termahal yang pernah gue urus.
Pukul 6 pagi. Mata mengerjap beberapa saat sembari mengumpulkan nyawa, melihat ke tempat tidur, kemudian kembali melihat jam dinding.
Hari ini, 31 Juli, dan gue bangun pagi di kamar tidur sendiri.
Buat gue yang sudah sekian lama tidak pernah ada di rumah saat ulang tahun, bahkan terakhir kali merayakan ulang tahun itu hampir 10 tahun yang lalu, apa yang gue alami pagi ini sedikit janggal. Gue diberi ucapan selamat ulang tahun, dicium ibu juga kakak gue di pagi hari.
Nggak ada yang spesial di hari ini selain gue bilang ke ibu kalo gue mau masakin dia. Gue mau masak nasi liwet biru dan tumisan isi kemangi, teri & tomat ijo.
Percakapan di malam Minggu
Ya itung-itung kasih ide dia buat ngado deh, daripada kayak tahun lalu, ujug-ujug kasih kalung. Sampe saat ini, gue tanya ibu beli kalung di mana, siapa yang nganterin, nggak mau ngasih tahu juga, cuma cengengesan. Jadi daripada dia keluar duit beli kado, mending suruh buatin bacem, hahahaaa… MURAH!
Setelah berkutat selama hampir 2 jam di dapur, masakan pun siap disantap. Saat sarapan ini pun, cukup “lucu” buat gue, karena sudah cukup lama gue menghabiskan sarapan di hari pertama bersama orang-orang yang sama sekali nggak tahu kalau gue ulang tahun di hari itu, tapi pagi ini, gue sarapan sama ibu. Ada sesuatu yang hilang dari ketidakhadiran orang-orang tak dikenal itu.
Serbuuuu….
Membalas ucapan-ucapan yang masuk via WAG juga salah satu yang nggak biasa buat gue, karena tempat gue melipir di ulang tahun itu biasanya tak bersinyal atau beda zona waktu. Untungnya, gue sudah ubah pengaturan di FB. Jadi ketika gue cek FB, hanya ada satu orang yang ingat ulang tahun gue, Doksin. Padahal Doksin ini baru gue kenal 6 bulan yang lalu. Benar-benar di luar dugaan. Fitur ulang tahun di akun medsos lainnya, Path dan Twitter, tidak pernah gue aktifkan sejak semula.
Selain Doksin di FB, ada beberapa teman yang di luar dugaan gue, mengirim pesan ucapan ulang tahun pribadi di WA, bukan melalui grup. Senang, sudah tentu. Tapi lebih dari itu, membuat gue berintrospeksi, kenapa gue nggak bisa seperti mereka? Umumnya gue mengirim ucapan di grup atau FB karena ada notifikasi atau karena ada yang sudah duluan kirim ucapan. Terima kasih sudah memberi gue pelajaran bermanfaat hari ini ya!
Berhubung besok mau liburan, jadi siang ini gue pijat seluruh badan. Secara ya, gue bakal pergi 2 minggu. Nggak lucu banget kalo baru hari pertama tapi udah remuk. Pas banget setelah pijat, tetehku tersayang datang. Dia bawa kue sebagai kado ulang tahun. Yeaaaayyy…
Pada saat nulis, yang tersisa tinggal satu, haha…
Terharu, ampe bela-belain datang ke rumah selepas dia ngajar di Gandaria, padahal rumahnya di Pejaten. Tapi gue rasa juga karena dia kangen gue banget deh, secara sering banget mimpinya ada gue dan Beezers lainnya, hahahaa… Tapi gue seneng teteh bisa mampir ke rumah. Dia ini udah jadi semacam kakak buat gue. Dan selayaknya kakak, ya suka jadi korban bully dan tempat sampah, tempat gue buang kekesalan. Teteh ini jadi peredam gue, dan secara tidak langsung, berkontribusi cukup banyak untuk mengubah gue jadi orang yang lebih sabaran dikiiiiitttt…
Makasih teteh tersayang, teh Pipih, eh teh Fifiiiiiiiiiiiii…
Sekarang jam 19:00, berarti gue sudah 41 tahun 1 jam berada di dunia ini, menghirup udara yang diberikan Tuhan secara gratis. Terima kasih Tuhan atas segala yang sudah diberikan ke gue dan keluarga ini. Terima kasih atas jalan hidup yang digariskan ke gue. Nggak ada satu pun yang akan gue sesali karena semua sudah diatur oleh-Mu.
Terima kasih untuk semua teman yang memberi ucapan dan memberi doa-doa yang sangat baik. Semoga kita semua selalu berada dalam lindungan-Nya, diberi kesehatan, kebahagiaan dan rezeki melimpah ruah agar selalu bisa berbagi dengan sesama. Semoga kita juga selalu menjadi orang yang ingat akan diri-Nya, dan ingat bahwa suatu saat, kita akan menemui Sang Pencipta. Semoga bekal kita sudah cukup banyak saat harus menghadap-Nya.
Orang yang diajak ke suatu pesta dan pertama kalinya ditawari minum miras, pasti akan memberikan reaksi yang berbeda. Mulai dari, “Nggak, makasih ya.”, “Gue coba dikit aja ya”, “Pahit banget! Ada yang lebih manis nggak?” sampe “Boooo, ini enak bangeeettt!”. Buat mereka yang pertama kali mencoba lalu merasakan tidak enaknya, pasti berkesimpulan bahwa semua miras rasanya sama. Kemudian ia memutuskan untuk tidak lagi mencobanya. Sementara buat yang penasaran, pasti akan mencoba berbagai minuman sampai ketemu yang enak. Ada juga yang udah langsung dapat enaknya, dia akan memberikan segelas minumannya ke temannya untuk ikut mencicipi.
Begitu pula dengan mabuk agama.
Berbagai reaksi pasti akan diberikan oleh orang yang diundang untuk pertama kalinya datang ke suatu kelompok yang mengkaji teori atau ajaran agamanya agar mengenal agamanya lebih dekat. Mulai dari rasa skeptis, enggan, datang hanya untuk menghormati si pengundang, hingga menikmati acara dari awal sampai selesai. Keputusan yang diambil pun juga beragam, mulai dari sebisa mungkin menghindari si pengundang sampai mengajak orang lain untuk datang ke kajian agama bersamanya.
Efek yang ditimbulkan dari mabuk miras dan mabuk agama ini kurang lebih sama. Mulai dari yang asyik sendiri dengan joget diiringi musik, ngoceh tanpa henti ke semua orang yang dilihat padahal belum tentu kenal, sok tenang tapi tahu-tahu muntah tanpa lihat tempat, sampai ada yang beringas lalu ngajak berantem semua orang yang menurutnya beda, ditambah lagi, ngajak temannya yang sama-sama sedang mabuk untuk ikut berantem dengannya tanpa tahu duduk persoalannya.
Mabuk agama juga begitu.
Ada yang sibuk menasihati temannya tanpa diminta, ada yang asyik sendiri meneruskan pengetahuan yang barusan didapat, tapi ada juga yang kasar, mengajak ribut semua orang yang berseberangan dengannya, sampai memprovokasi orang tidak dikenal tapi memiliki kesamaan pandangan dengannya untuk ikut bersamanya, memberantas yang berseberangan dengan mereka. Ini semua karena rasa nikmat yang diperoleh.
Tapi ada satu hal signifikan yang membedakan mabuk miras dan agama.
Kalau mabuk miras sudah pasti ada jangka waktunya, sudah tertebak dari mulai minum, naik enaknya, benar-benar menikmati sampai waktunya sadar lalu kembali beraktivitas. Lalu, mabuk miras ini tidak terjadi setiap saat. Umumnya kalau lagi berpesta merayakan kegembiraan saja. Sehingga waktu mulai minum sampai selesai itu hanya dalam hitungan jam saja. Langka sekali menemukan orang yang berpesta miras 1×24 jam.
Sementara mabuk agama ini sulit ditebak karena tahapan orang mulai mendapat pengetahuan dan merasakan kenikmatannya itu beda-beda. Jadi bisa saja, ada yang baru mulai, ada yang sudah mulai bisa menikmati, tapi ada juga yang sudah di tahap efek mabuk, mulai dari yang standar sampai yang reseh dan tidak bisa ditoleransi lagi.
Menurut gue, mabuk miras dan mabuk agama itu sama sekali tidak ada bedanya. Para pemabuk itu sama-sama ingin merasakan kenikmatan yang abstrak selama mungkin. Walau ada kemungkinan kecil mereka tahu bahwa yang dilakukan tidak sesuai dengan norma, bahwa apa yang berlebihan dan memabukkan itu tidak benar, tetapi namanya juga sedang mabuk, pasti sulit untuk berpikir logis.
Sekarang terserah Anda, mau mabuk miras, mabuk agama, atau tidak mabuk di dua-duanya?