Waktu gue SMP, ketika gue ditanya apa cita-cita gue, gue bilang kalau gue ingin keliling Indonesia, ke 27 provinsi (Ya! Indonesia di akhir 80an cuma punya 27 provinsi, gak 34 kayak sekarang). Gue pengen jadi pemandu wisata supaya gue bisa keliling Indonesia gratis, hahahaa. Gue merasa kalau dalam hal cita-cita, gue bukan kayak anak alay pada umumnya yang suka berubah haluan. Masuk SMA, memang gue ada keinginan untuk menjadi arkeolog. Tapi alasan di balik itu juga supaya gue bisa menjelajah Indonesia dan mencari benda-benda purbakala, menelisik sejarah Indonesia di masa lalu. Masih ada hubungannya dengan berkelana di daerah-daerah di Indonesia. Sayangnya, guru sejarah gue memberi gue kenyataan pahit, bahwa menjadi arkeolog di Indonesia itu tidak akan pernah dihargai dan tidak akan menghasilkan uang untuk bertahan hidup. Tapi, terima kasih lho, bu! Karena apa yang ibu katakan tentang profesi arkeolog itu benar adanya.
Kembali lagi ke cita-cita gue untuk jadi pemandu wisata, ok? Sebagai orang tua yang baik, maka pas gue mau naik kelas 2 SMA, bapak ibu gue mencari tahu sekolah yang cocok untuk mewujudkan cita-cita gue itu. Akhirnya didapatlah satu sekolah, namanya Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung, dan gue diberi tahu mengenai sekolah ini sama bapak dan ibu. Pas liburan kenaikan kelas, gue diajak mereka ke Bandung untuk melihat langsung sekolah ini. Gue benar-benar makin yakin untuk sekolah di STPB setelah gue lihat langsung dan mengagumi betapa kerennya seragam mahasiswa di situ.
Singkat cerita, gue sekolah di STPB walau tidak di jurusan pariwisata sesuai keinginan gue karena bapak maunya gue ambil D-IV perhotelan. Setelah lulus, gue pun tidak kerja di industri perhotelan karena pas gue lulus, Indonesia lagi dilanda krismon. Jadi alih-alih merekrut pegawai, industri tersebut malah kembang-kempis, berusaha bertahan hidup dengan memecat banyak karyawan. Gue pun banting setir, bekerja di bidang yang tidak sesuai cita-cita, bahkan tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan. Satu hal yang amat sangat gue syukuri bahwa gue kuliah di STPB itu adalah, sekolah ini sangat menempa mental gue, membuat gue nggak kaget akan dunia kerja. Jika dibandingkan dengan lulusan universitas lain, lulusan STPB angkatan gue dan beberapa tahun di bawah gue, masih terbilang bermental baja, bisa ditempatkan di segala situasi, nggak cengeng kayak anak-anak milenial yang bentar-bentar ngadu ke orang tuanya terus orang tuanya menghadap sekolah dan petantang-petenteng (bahkan orang tua yang lulusan STPB itu lebih bermental baja dalam mendidik anaknya, nggak kayak orang tua lainnya yang rempong, yang rumpian, yang bentar-bentar ngatur sekolah anaknya #kenyataan #alumnienhaiijuwarak #maapkalocarigaragara #makanyajangansukapostingdimedsosbiargakkeliatankalolorempong).
Tapi, bukan berarti bekerja di bidang yang tidak gue sukai sama dengan mengubur cita-cita gue untuk keliling Indonesia. Gue masih meluangkan waktu untuk berlibur menikmati keindahan Indonesia. Terutama setelah gue tidak bekerja kantoran lagi, gue punya fleksibilitas waktu yang sangat tinggi, memungkinkan gue untuk berilbur kapan saja gue mau, selama anggaran liburannya sesuai, hahahaaa (ini penting!). Gue berlibur bisa sendiri saja, bersama ibu, beberapa teman dekat, atau bahkan sekumpulan teman yang benar-benar gue baru kenal saat mau berilbur.
Akhirnya pada Juni lalu, gue pun bisa mencapai keinginan gue untuk menjejakkan kaki ke 34 provinsi yang ada di Indonesia. Gue sendiri merasa kalau tempat-tempat yang gue datangi itu masih tergolong destinasi mainstream, walau ada beberapa tempat yang memang cukup anti-mainstream karena perjalanannya cukup melelahkan atau memang tidak banyak yang tahu bagaimana menuju ke destinasi tersebut.
Jika ditanya tentang perasaan gue setelah mewujudkan cita-cita gue, tentu gue akan jawab kalau senang luar biasa. Tapi itu tidak seberapa dibandingkan proses dalam mewujudkan cita-cita itu. Menikmati tempat-tempat indah Indonesia; berkomunikasi dengan warga setempat; melihat lingkungan yang kadang cukup membuat miris dan berkata dalam hati, “Seandainya gue punya duit banyak, gue akan…”; segala pengalaman mengesankan, mulai dari pengalaman baik, buruk, menegangkan, hampir mati, lucu, semua itu yang menurut gue lebih penting untuk diingat dan dirasakan.
Ada yang bertanya ke gue, mana tempat yang paling bagus dari semua tempat yang sudah dikunjungi. Terus terang gue nggak bisa jawab, karena Indonesia ini surganya tempat-tempat indah. Memang ada tempat yang biasa saja, yang hanya terlihat bagus dalam foto, tapi itu hanya sebagian kecil. Yang jelas, laut Indonesia itu sungguh sempurna! Itulah mengapa hingga detik ini, gue tidak pernah mau yang namanya berlibur ke pantai/laut di luar negeri, karena tidak ada yang menyamai keindahan laut Indonesia. Gue bahkan pernah satu minggu di Hawaii (gue bahkan lupa nama pulaunya), dan tidak satu kali pun gue menjejakkan kaki di pantai mereka yang konon kata indah dan wajib didatangi itu, hahahaaa.
Indonesia itu surganya keindahan alam. Walau tak jarang harus merogoh kocek lebih dalam untuk datang ke tempat-tempat tersebut dibandingkan pergi keluar negeri, tapi gue lebih puas jika gue pergi ke tempat tersebut dibandingkan keluar negeri. Mungkin nasionalis gue receh, tapi dengan berilbur, gue sangat bersyukur kalau gue dilahirkan sebagai orang Indonesia, negeri super kaya ini, dan bertekad untuk berkontribusi membangun negeri ini, entah bagaimana caranya.
Jadi, pergi ke mana lagi kita?