…tahun 2020 dalam tulisan…

Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2020, dan jujur, tahun ini beda sekali dari tahun-tahun sebelumnya. Semua ini tak lain dan tak bukan adalah karena pandemi wabah Corona yang melanda sudah hampir setahun. Semua rencana yang sudah diatur buyar, mau tidak mau harus bisa beradaptasi dengan situasi baru. Bukan hanya wabah yang membuat tahun ini berbeda, tapi beberapa kejadian yang bersinggungan langsung dengan kehidupan gue dan turut andil membuat perbedaan tersebut. Gue di sini mencoba menuangkannya bulan per bulan.

JANUARI

Setelah absen selama setahun, akhirnya kegiatan Cerdas Tanpa Batas dari Lebah bisa diadakan lagi. Kali ini lokasinya di Tuban, Jawa Timur. Kegiatan bersama Lebah di awal tahun itu selalu menjadi penyemangat tersendiri yang tak bisa tergantikan dengan apa pun. Sehabis kegiatan, seperti biasa gue dan Beezers akan berwisata dan tujuan kali ini adalah Lasem. Sebagai orang yang punya darah Lasem, berada di sini tuh kayak mengonfirmasi bahwa gue ini memang punya darah Cina walau mungkin hanya 1/8. Kenapa? Karena di daerah ini banyak sekali peninggalan sejarah Cina dan yang “dijual” memang warisan budaya mereka.

FEBRUARI

Mulai berseliweran berita tentang wabah virus Covid. Gue sih menganggapnya ini hanya flu biasa, nggak ada yang harus dikhawatirkan. Beberapa negara tetangga udah kena tetapi mayoritas orang Indonesia menganggap kalau negara ini nggak bakal kena karena virus itu. Di bulan ini gue juga sibuk ngurus persiapan untuk pergi ke Yordania lalu lanjut ke Aqsa & umroh sama ibu. Tapi, sekitar seminggu sebelum keberangkatan (27 Feb), dapat kabar kalau visa umroh ke Arab Saudi diberhentikan untuk sementara waktu karena virus ini. Asli gue panik dong, soalnya tiket udah di tangan. Kalo hotel kan bisa dibatalkan begitu saja karena belum bayar apa-apa. Di situ benar-benar yang namanya berharap tapi perlahan menyadari kalo nggak mungkin juga untuk memaksakan keinginan. Pasrah.

MARET

Gue memutuskan untuk tetap jalan sama ibu dan 9 orang lainnya ke Yordania dengan harapan tetap bisa lanjut ke Aqsa. Kalau umroh sih udah gue batalkan dari Jakarta. Sehari setelah sampai di Yordania, gue dan grup sudah siap dalam perjalanan ke Aqsa, dan ternyata, pemerintah Yordania mengeluarkan pengumuman bahwa semua perbatasan ke Israel ditutup. Pupus sudah harapan untuk menyeberang ke Aqsa. Gue sih bisa menerima kenyataan ini secara gue udah pernah ke Aqsa, tapi gue sedih banget lihat raut muka ibu yang kecewa, yang walau berusaha ditutupi, tetap saja keliatan. Gue nggak tahu, apakah gue masih bisa ngajak ibu ke Aqsa secara ibu semakin lama semakin tua, semakin lemah fisiknya. Akhirnya grup gue menjelajahi Yordania selama seminggu, dan untungnya negara ini menyenangkan untuk dijelajah. Gue sendiri udah pernah ke Yordania, tapi negara ini benar-benar tidak membosankan.

Tepat sehari setelah pulang dari Yordania, pemerintah Indonesia mengumumkan diadakannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), yang artinya sekolah dan kantor harus dari rumah, operasional bisnis dikurangi, dan segala hal-hal lainnya yang bertujuan untuk mengurangi penyebaran virus. Mas Erwin pun terkena dampaknya dan harus kerja dari rumah.

APRIL

Di bulan ini, ibu Tjuk merayakan ulang tahun ke-80. Bayangkan, 80 tahun! Gue sendiri sih nggak pernah berpikir gue akan bisa mencapai angka 80. Kayaknya tuh udah nggak punya teman seangkatan dan senasib, hahahaa… Berhubung masih PSBB, jadi perayaannya kecil aja, makan siang di rumah.

Akhir April ini pula, bulan puasa dimulai. Berhubung pemerintah melarang diadakannya shalat tarawih berjamaah, jadi mau tidak mau, semua diadakan di rumah. Sedih sih, tapi ya mau gimana lagi? Mesjid pada tutup. *hiks…

MEI

Di bulan ini, Lebah merayakan ulang tahun ke-12. Udah 4 bulan kami nggak bertemu fisik. Jadi untuk memenuhi rasa rindu tak terkira, perayaan diadakan secara virtual sekalian buka puasa bersama dan tausyiah.

Berhubung mesjid masih ditutup dan pemerintah menambahkan bahwa tidak boleh ada kegiatan shalat Ied di lapangan, maka semua umat Muslim di Indonesia mengadakan shalat Ied di rumah. Begitu pula di rumah. Mas Erwin sampe print khutbah yang mau dia bawain biar gak salah ngomong. Kocak sih, karena ini jadi pengalaman pertama yang tak terlupakan.

JUNI

Alhamdulillah PSBB sudah diangkat. Gue dan mas Erwin nggak menyia-nyiakan waktu. Tiap wiken gue ama mas Erwin pasti cari makan di luar. Daerah yang didatangi ya dekat-dekat aja, masih di selatan. Tapi ya kami berdua tetap harus awas dan ikuti protokol kesehatan, yaitu pakai masker, cuci tangan, bawa hand sanitizer, bawa alat makan sendiri, semprot alkohol/disinfektan ke meja/kursi yang mau ditempati. Gue ama mas Erwin sepakat, kalo tempatnya rame, langsung cabut. Jadi kami jalan itu pasti di jam yang orang belum banyak keluar.

JULI

Mbak Desy datang dari Amrik untuk liburan. Kalau Nadya sih udah dari bulan Juni. Mereka benar-benar memanfaatkan waktu, dan mereka datang di saat yang tepat karena PSBB sudah tidak ada lagi. Kangen juga ama kakak gue ini, soalnya terakhir ketemu itu setahun lalu, dan waktu itu cuma seminggu.

Ulang tahun gue di tahun ini terasa spesial karena tepat dengan Iduladha. Untungnya udah nggak ada PSBB, jadi bisa shalat Ied berjamaah walau tetap ada protokol kesehatan yang harus ditaati, yaitu jaga jarak antar jamaah. Dan di tahun ini pula, gue kembali merayakan ulang tahun yang ramean banyak orang, sementara selama 11 tahun terakhir, gue biasanya melipir sendirian, benar-benar menghindari keramaian.

AGUSTUS

Ini benar-benar bulan yang menurut gue paling menguras emosi. Pertama, setelah sebulan sakit syaraf parah, Belek nggak kuat dan mati dalam usia 1 tahun 1 bulan. Berat banget rasanya mengingat perjalanan kucing ini yang kurang beruntung dibanding kakaknya, si Oren. Rentan dari lahir, sempat hilang 3 hari pas puasa, kena virus pas di klinik kucing, dan akhirnya virus itu menyerang ke syaraf. Berharap dia bisa sembuh, tapi akhirnya gue pasrah, berdamai dengan diri, ikhlas kalau Belek harus mati. Memang benar kata dokter hewan gue, ketika pemilik binatang udah ikhlas, maka dia akan pergi dengan sendirinya. Emosi gue campur aduk selama seminggu. Tiap hari gue ke kuburan Belek bersama Oren & Serak yang juga merasa kehilangan.

Kedua, di Sabtu pagi yang cerah nan tenang, mas Erwin jatuh dari atap pas lagi pasang panel surya. Untung banget bapak-bapak pada ngumpul di depan rumah, jadi mereka langsung bereaksi cepat nolong. Alhamdulillah gue nggak panik juga. Langsung bawa mas Erwin ke RS untuk rontgen, cari tahu apakah ada patah tulang. Untung banget badannya gemuk, jadi lemak-lemaknya itu menutupi tulangnya dan mencegah terjadinya patah tulang. Semuanya baik-baik saja, kepala, dada, punggung. Nggak ada luka dalam sama sekali. Makanya cuma sempat dirawat di 1 malam lalu berobat jalan. Fiyuh!

SEPTEMBER

Dalam rangka merayakan tahun kedua pernikahan, gue dan mas Erwin melipir ke Bandung selama 3 hari. Berhubung mas Erwin belum fit untuk nyetir, jadinya gue yang nyetir selama perjalanan. Terinspirasi dengan perjalanan mbak Desy yang lewat Puncak menuju Bandung pas dia di sini, gue pun tertarik untuk lewat sana lagi. Sarapan di Puncak Pass, melewati berbagai spanduk paslon yang singkatannya kocak-kocak sepanjang Cianjur, jalan seputaran Braga, dinner di the Valley, hang out ama temen-temen HOA 94 dan tentunya beli oleh-oleh, hahahaa…

OKTOBER

Kabar baik akhirnya datang juga. Deg-degan, tapi yakin kalau semua ini sudah diatur oleh Allah SWT. Yang bisa gue lakukan hanya bisa berdoa semua akan berjalan baik-baik saja. Bismillah!

NOVEMBER

Mengawali bulan ini dengan rawat inap di RS selama 3 hari. Gue muntah parah sampai dehidrasi, nggak bisa masuk minuman, apalagi makanan. Tapi ya untung setelah itu gue mulai membaik walau tetap masih muntah. Dokter bilang sih kalo mau muntah ya muntah aja, jangan ditahan.

Bulan ini diakhiri dengan berita yang mengejutkan dan menyedihkan. Salah seorang relawan Beezers yang bergabung ke Lebah karena gue, Inung, meninggal akibat kecelakaan sepeda tunggal di Sentul. Beritanya benar-benar bagai petir di siang bolong. Apalagi, dua minggu sebelumnya dia sempat main ke rumah sama Nonie & teh Fifi. Gue terima kasih banget ke Tuhan karena pernah dipertemukan dengan Inung di dalam hidup ini, yang sepanjang ingatan gue, nggak pernah cemberut & bermuka masam sekali pun. Inung, semoga elo sudah hidup tenang di sisi Allah SWT ya. Kangen banget ama elo…

DESEMBER

Tidak terasa sudah menginjak bulan terakhir di tahun ini. Banyak sekali teman-teman gue berbintang Sagitarius yang ulang tahun di bulan ini, termasuk mbak Desy & Abi. Tidak ada perayaan fisik karena kalau pun ada, gue sudah telanjur malas untuk berada di dalam keramaian. Mungkin aneh, tapi kayaknya gue sudah mulai terbiasa dengan berada di lingkaran kecil. Gue juga udah nggak ada lagi keinginan untuk jalan-jalan keluar Jakarta. Setiap kali ditanya apakah gue kangen jalan-jalan, tentunya iya. Tapi kapan gue bisa jalan-jalan lagi? Entahlah. Gue udah dalam taraf enggan membuat rencana.

Tahun ini benar-benar menguji kesabaran semua orang. Terlepas dari semua drama naik turun yang terjadi di tahun ini, gue tetap bersyukur atas segala yang terjadi. Bersyukur masih diberi rumah tempat berlindung, kesehatan, pekerjaan, dan yang terpenting, nafas untuk terus hidup dan memberi manfaat bagi sesama.

Terima kasih Allah atas semuanya. Semoga tahun 2021 membawa kehidupan yang lebih baik bagi semua orang. Aamiin ya rabbal alamin.

… sampai jumpa…

Dua hari yang lalu, gue mengantar mbak Desy ke bandara. Setelah hampir 3 minggu di Jakarta, saatnya dia balik ke Arlington, kembali menjalani hari dan rutinitasnya.

Terus terang, gue orang yang nggak suka dengan momen perpisahan. Padahal kalau dipikir-pikir, gue kan terhitung cukup sering bepergian, jadi seharusnya gue udah terbiasa dengan momen ini. Tapi entah ya, selalu ada perasaan kehilangan yang sama yang nggak gue sukai. Keesokan hari setelah perpisahan tuh pasti terasa sekali ada yang hilang. Makanya gue kadang mencoba menyiasatinya dengan mengucapkan kata, “I’ll see you soon“, dan bukan bilang, “Goodbye“. Cuma ya kadang tetap aja nggak ngaruh sih, hahahaa.. KZL!

Perasaan kehilangan itu akan lebih terasa ketika waktu kebersamaannya lebih lama. Mau itu pas liburan bareng teman-teman dekat ke suatu daerah, pas liburan sendiri dan mengunjungi teman (kadang menginap untuk beberapa waktu, bermain sama keluarga dan teman-temannya), atau pas kakak dan keponakan gue lagi datang berlibur. Sehari sebelum bubar jalan tuh biasanya suka mikir, kapan lagi ya bisa ketemuan. Gue juga tuh perlu waktu lagi untuk menyesuaikan diri ke keadaan sebelum perpisahan terjadi. Itu juga mungkin yang jadi salah satu alasan kenapa sebisa mungkin gue menghindari perpisahan.

Tapi ya, macam pepatah aja. Di mana ada pertemuan, di situ ada perpisahan. Ini sesuatu yang takkan mungkin dihindari. Tinggal gimana pinternya kita ngatur suasana hati. Perjalanan panjang untuk bisa kendalikan suasana hati. Kadang bisa dikontrol, kadang nggak. Kalo lagi nggak bisa, byaaaaaar, keran nangisnnya bocor deeeehh…

…akhirnya merasakan…

Yak!

Akhirnya hari ini gue bisa merasakan bagaimana kerja untuk lokakarya daring. Selama ini, gue kan hanya mendengar dari teman-teman gue yang jadi juru bahasa tentang suka-duka bekerja untuk pertemuan daring. Gue sih bukan kerja sebagai juru bahasa (bisa mati berdiri gue, bos!), tapi sebagai notulis.

Walau sudah ada briefing dua hari sebelumnya, tapi gue cukup deg-degan karena khawatir ada masalah di koneksi, rekaman, dsb. Entah kenapa, kalau gue akses Zoom dengan laptop, pasti ada aja kejadian hilang sinyal. Makanya 30 menit sebelum mulai acara, gue udah sibuk atur strategi. Gue cukup bersyukur karena gue ada ponsel yang nggak terpakai, punya alat perekam, dan pengeras suara. Jadi strategi gue adalah akses utama gue ke Zoom pakai laptop, pengeras suara dan akan merekam suara dari ponsel sehari-hari gue. Sementara untuk cadangannya, gue akan akses Zoom lewat ponsel cadangan dan merekam suaranya dengan alat perekam portabel.

Gue senang banget karena acara pembukaan berjalan lancar. Tapi mulai masuk ke acara kedua, Zoom di laptop gue mulai cari gara-gara. Gue yakin karena koneksi, makanya gue putuskan tethering ama ponsel. Eh ternyata, baiknya cuma sebentar. Untung banget lagi giliran tandeman gue yang buat notulen, jadi gue bisa utak-atik sambil mikir. Akhirnya ponsel yang fungsi awalnya merekam suara dari laptop harus jadi sarana utama untuk akses Zoom. Urusan alat beres sudah.

Tapi, masih ada kendala lain. Ternyata suara juru bahasa dan narasumber bertabrakan, sementara gue harus mendengarkan suara dari juru bahasa. Asli kacau sih itu. Untung aja tabrakan suaranya nggak lama, tapi masalahnya, kejadian tabrakan ini cukup sering karena tiap ganti pembicara baru, mereka nggak ngerti harus ngapain supaya nggak tabrakan.

Di luar kendala teknis, menurut gue, kerja daring begini lebih banyak enaknya daripada nggak enaknya. Kenapa? Karena yang pertama, gue nggak perlu munculkan muka. Tapi gue sih tetap rapih, berpakaian batik dan blazer biar suasana kerjanya dapat. Nah karena nggak memunculkan muka, jadinya pas bukan giliran gue untuk buat notulen. gue bisa sambi dengan makan, masak, mondar-mandir ke kulkas, ngemil, toilet.

Secara keseluruhan, pengalaman pertama gue hari ini sungguh menyenangkan. Kalau ada lagi tentunya gue nggak akan nolak. Ya iya laaaahh, rezeki nggak boleh ditolak dong.

Sekarang sudah malam. Badan enak banget selonjoran kena tempat tidur setelah duduk aja nyaris 9 jam. Saatnya tidur untuk memulihkan tenaga supaya besok nggak loyo.

Yuk, mari kita bobo….

…masker (bukan bengkoang)…

Sejak wabah Covid ini mulai merebak, pemerintah dan berbagai lembaga gencar sekali menyuruh warganya untuk pakai masker. Awalnya dianjurkan pakai masker medis, makanya sempat ada masa ketika masker hilang dari pasaran. Terus berubah lagi jadi masker kain karena yang medis diutamakan untuk tenaga medis dan mereka yang sakit.

Terus terang aja, gue nggak bisa pakai masker medis ijo itu. Kenapa? Karena bahannya buat gue jerawatan. Asli! Jadi gini… Kalian tahu kan kalo waktu awal-awal Gojek masih cari pelanggan, semua pengemudinya taat prosedur. Sebelum naik, mereka akan kasih masker ke penumpang. Gue sebagai penumpang yang taat aturan (tsah!) ya terima-terima aja. Nah tapiiiiii, efeknya tuh gue besok langsung jerawatan. Gue tuh nggak pernah mikir kalau ini karena masker, tapi jarena jalanan yang sangat berdebu. Cuma, setelah 3x gue pake masker kain dan berujung dengan jerawat keesokan harinya, sementara kalo pake masker kain yang karetnya kayak pinggiran celana dalam itu gue aman-aman aja Jadinya gue simpulkan sendiri, kalau ada kandungan di masker medis itu yang nggak cocok di muka gue. Padahal ya, gue kan dulu mahasiswa suka dipanggil Badak, harusnya kulit gue juga sekuat badak (ini sedikit nggak nyambung, sodara-sodara).

Ada untungnya juga gue nggak bisa pakai masker medis, jadinya gue punya alasan untuk beli masker kain dengan berbagai motif. Zaman gue masih suka naik Comm Line, gue seneng banget beli masker yang dijual di depan stasiun. Udahlah motifnya batik, agak tebal, trus murah (ini penting!).

Sekarang, masker menurut gue udah jadi statement of fashion. Banyak banget yang buat masker dengan motif lucu. Kalo gue milih mau beli masker, motif itu nomor dua. Yang paling penting di gue adalah maskernya harus tali yang diikat atau serut (adjustable loop). Gue nggak bisa pakai masker yang talinya disangkut ke leher. Selain ribet karena gue pake kerudung, yang jelas, kuping gue akan langsung merah, gatal dan kadang bisa pusing seharian. Ngeselin banget emang, hahahaa…

Tadi pagi gue iseng, menata sambil hitung ada berapa masker gue. Ternyata ada 21, gaeeeessss… Ada beberapa masker yang emang udah lama gue punya, tapi emang sebagian besar baru gue beli beberapa waktu terakhir ini.

Well, meminjam kata teman gue yang pembuat masker (dan gue jadi pelanggan tetapnya), “It’s never too many for these days”.

… empat agustus…

Kalau bapak gue masih hidup, hari ini dia akan merayakan ulang tahun yang ke-79 (menurut KTP). Kenapa menurut KTP? Karena menurut cerita ibu dan bapak, bapak gue itu lahirnya tahun 1942. Tapiiiiii, berhubung ibu gue itu kelahiran tahun 1940, bapak cari jalan tengah biar gak jauh banget bedanya. So, voila! Dibuatlah dua-duanya lahir di tahun 1941.

Kocak juga sih kalau dipikir-pikir. Soalnya zaman sekarang sepertinya sudah lumrah kalau cowoknya lebih muda dari ceweknya. Tapi mungkin dulu masih belum banyak. Coba kalau Suzanna eranya sama ama bapak dan ibu gue, mungkin nggak bakal ada tuh drama ganti tahun lahir ini. Buat yang nggak tahu Suzanna, beda usia dia dan suaminya, Cliff Sanggra itu 17 tahun! Itu ibaratnya, lo nikah usia 16 tahun, trus hamil, dan punya anak usia 17, nah Cliff ini adalah anak pertama lo.

Tapi sudahlah, ngapain juga bahas Suzanna, nggak penting. Mending bahas bapak gue aja. Foto ini waktu dia kira-kira usia 22-24 tahun, masih di Marinir. Ini gue simpen di dompet gue. Jadi, ke mana pun gue pergi, dia selalu ikut. Tiap ambil duit di dompet, wajahnya yang pertama kali terlihat. Dia juga saksi bisu ketika dompet gue menangis karena nggak ada duit tersisa, hahahaha…

Anyway, bapak gue ganteng yak! Selamat ulang tahun ya, pak Baso…

… jangan dipendam…

Ulang tahun gue di tahun ini spesial karena bertepatan dengan Iduladha, jadi semua orang merayakannya. Kapan lagi coba, ulang tahun lo dirayakan seluruh dunia? Nggak semua orang bisa mengalaminya. Yekaaaaaaannn?

Nah, berhubung mbak Desy lagi berkunjung ke Jakarta dan dalam suasana Lebaran juga, akhirnya kepikiran untuk recreate foto keluarga yang dulu juga dibuat waktu Lebaran walau itu pas Idulfitri.

Gue lupa foto dulu itu tahun berapa, tapi yang jelas sih sebelum tahun 2010. Ya katakanlah sekitar 10 tahun yang lalu. Kalau kedua foto diperhatikan, terlihat jelas bahwa dalam 10 tahun, ibu Tjuk memutih dan menyusut sekali ya, hehehe…

Oya, berhubung tiap ngepos foto ibu trus banyak yang komen kulitnya yang putih kayak porselen, gue sekalian aja mau jelasin. Jadi ibu itu bukan putih dari sananya, tapi kena penyakit vitiligo. Itu loh, penyakit kulit yang bercak-bercak putih. Kulit ibu sih emang kuning (maklum, ada turunan Cina), trus bercak-bercak putih di ibu ini pintar milih tempat munculnya. Jadi nggak kelihatan ama publik.

Menurut dokter, salah satu pemicu munculnya penyakit ini karena stres tapi disimpan sendiri. Sepeninggal bapak, ibu memang selalu bilang baik-baik saja, dan segala sesuatu memang berjalan seperti biasa. Tapi ternyata, semua ibu pendam sendiri dan mulailah bercak-bercak putih itu muncul. Entah berapa banyak dokter kulit yang didatangi, berapa banyak obat yang dipakai. Lalu pada akhirnya, daripada mengembalikan warna kulit kembali ke keadaan normal, ibu akhirnya memutuskan untuk sekalian pakai krim pemutih saja. Seiring perjalanan waktu, sel pembuat pigmen tubuh ibu bekerja sangat lambat nyaris berhenti. Itulah mengapa kulit ibu putih sekali, plus sensitif sama sinar matahari.

Jadi begitulah ceritanya. Pesan gue, kalau kalian stres, carilah teman untuk diajak bicara, jangan simpan sendiri ya. Kesedihan harus dikeluarkan, jangan ditekan sampai bertumpuk-tumpuk yaaaa…

…80 tahun di dunia…

Hari ini ibu Tjuk tepat berusia 80 tahun. Gue nggak pernah membayangkan akan hidup selama ibu. Tapi, gue juga nggak pernah bisa membayangkan kalau ibu tidak akan hidup selamanya. Untuk orang berusia 80 tahun, ibu cukup sehat. Keluhan yang dialami masih wajar-wajar saja, kayak sering lelah, punggung udah nggak bisa lurus lagi, kalau jalan udah nggak bisa cepat. Tapi di luar itu, ibu itu masih fit. Ya gimana yaaaaaaaaa, secara masih bisa bersihin kamar mandi sendiri, masih colongan naik tangga, potong rambut sendiri, dan yang juara itu ya masih bisa manjat pohon jambu!

Tahun ini, sebenarnya gue udah berencana untuk bawa ibu ke Masjidil Aqsa sebagai hadiah ulang tahun. Kalo tahun lalu kan hadiah ulang tahunnya berlibur ke Jepang karena ibu itu cerita kalo sejak muda belia, ibu ingin sekali lihat sakura dan budaya Jepang. Nah kenapa tahun ini gue pengen bawa ke Aqsa? Karena itu keinginan dia sejak dia pergi umroh pertama kali ama bapak. Tapi apa mau dikata. Manusia hanya bisa berusaha, tapi Tuhan yang berencana. Kami tiba di Jordan (sebagai tempat transit sebelum masuk Aqsa) siang hari pada tanggal 8 Maret, dan ternyata Jordan mengeluarkan larangan untuk menyeberang Israel tanggal 8 Maret di malam hari. Jadi mau nggak mau, kita hanya bisa jelajah Jordan. Kekecewaan jelas tergambar di raut wajah ibu, tapi mau bagaimana lagi? Kita hanya bisa pasrah ngalah, nrimo. Persoalan Corona ini benar-benar udah di luar kendali.

Gue sih masih berharap bisa bawa ibu ke Aqsa setelah semua urusan Corona ini selesai. Mudah-mudahan aja gue diberi kesempatan untuk mewujudkan keinginan ibu. Mohon doanya supaya ibu Tjuk selalu diberi kesehatan, dijauhkan dari penyakit, bahagia dan bisa menjejakkan kaki ke Aqsa yaaaaaaaaaaa…

…masak apa hari ini?…

Itu adalah pertanyaan sehari-hari, baik yang dilontarkan ke diri sendiri atau ditanyakan ibu ke gue. Oh ya, gue belum sempat cerita di sini kalau sejak September 2018, gue udah nikah (ini ntar gue ceritain di blog tersendiri deh). Salah satu hal yang membuat gue cukup pusing adalah masak. Gue emang suka masak, tapi dulu itu bukan suatu hal rutin. Jadi gue masak karena ya gue emang lagi pengen aja, nyoba sesuatu yang baru. Tapi sekarang, gue harus masak tiap hari karena kalo nggak, ya nggak ada makanan tersaji. Kadang sih kalo keluar malasnya, gue beli aja. Cuma ya bisa bangkrut kalo tiap hari beli. Jadi sekarang belinya ya pas akhir pekan aja, haha.

Nah, pertanyaan “Masak apa hari ini?” itu benar-benar suka buat pusing kepala. Kenapa? Karena gue nggak pengen menu yang tersaji itu-itu aja, jadi gue harus buat beragam variasi. Dulu pernah buat metode dengan mencatat masakan yang gue buat hari itu di ponsel. Jadi gue bisa buat jarak waktu antar makanan yang sama. Tapi ya cuma berjalan bentar karena kalau nggak salah, waktu itu sempat liburan, trus pas balik lagi ke Jakarta, lupa deh untuk mulai lagi.

Berhubung beberapa minggu lalu gue cek jantung (CT Scan) dan ternyata ada penyumbatan di jantung, mau gak mau, gue harus mulai benar-benar berpikir serius tentang masak-memasak ini. Gue nggak mau drastis kayak orang-orang yang diet trus food combining gitu. Sejauh ini yang penting buat gue adalah mengganti nasi putih dengan nasi merah, lalu mengurangi masakan bersantan dan yang digoreng. Tapiiii, kalau memang harus menggunakan minyak, ya pakai minyak jagung alih-alih minyak kelapa sawit.

Untuk memudahkan urusan gue mengenai menu makanan, selama 4 jam ke belakang tadi (setelah masak orek tempe untuk hari ini), gue berkutat melihat-lihat buku resep yang gue ada selama ini (juga ada yang baru gue beli kemarin), terus gue buat menu selama sebulan. Lumayan sih, gue berhasil buat menu sampe minggu pertama April. Tadinya mau gue terusin sampe akhir April, tapi kepala gue udah keburu panas, hahaaaa…

Pembuatan menu ini mudah-mudahan juga memudahkan gue dalam hal belanja. Soalnya, gue tuh kadang ke tukang sayur dan bingung mau beli apa, secara gue bingung mau masak apa. Yaaaaa, semoga juga masakan gue yang resepnya hasil nyontek dari buku nggak mengecewakan.

Sekarang gue mau istirahat maen game dulu 🙂

…kupas buah…

Gara-garanya hari Minggu kemarin, gue ketemuan sama temen-temen gue lalu membahas tentang cara kupas dan makan buah. Ternyata menurut teman gue, itu ribet sekali untuk makan buah. Sementara selama ini, menurut gue sih biasa-biasa aja.

Misalnya gini, gue hanya mau makan jeruk kalau sudah kupas dan serat putihnya sudah nggak ada. Padahal kata orang, yang bagus dari orang itu ya si serat putihnya. Trus, gue kalo kupas rambutan itu pake pisau soalnya pernah kejadian, gue buka rambutan pake jempol karena gue lupa diri, makan banyak rambutan. Eh, hasilnya kuku jempol gue kayak masuk ke dalam gitu, sakitnya ampe berhari-hari. Untuk duku/langsat, gue terus terang agak malas makannya karena bergetah. Jadi walau ada yang berbaik hati mau ngupasin untuk gue, ya kadang gue makan, kadang juga nggak, soalnya kan tetap aja itu getah nempel di tangan. Lengket!

Untuk buah-buah besar yang bisa gue makan itu ya mungkin semangka, dan ini kan udah jelas pakai pisau. Kalo melon, pastinya cari yang potong atau udah kupasan. Duren sudah tentu gue serahkan ke yang lebih ahli untuk bukain, walo kadang ya gue juga buka semisal durennya kecil dan jatahnya kayak satu orang satu buah duren gitu (dan ini sih bisa dihitung pake jari!).

Ini gue jadi lagi mikir tentang buah-buahan. Hahahaa… Daripada ribet, mending makan rambutan aja deh. Tentunya, rambutan yang gue kupas dengan pisau dan sudah didinginkan di lemari es dari beberapa jam lalu.

…kumpul keluarga…

Tak bisa dielakkan, bahwa kumpul keluarga itu sering sekali dilakukan dalam satu keluarga, entah itu arisan, halal bihalal, perayaan ulang tahun, selamatan rumah baru, dan masih banyak lagi peristiwa lainnya yang akan berujung dengan kumpul keluarga ini.

Gue sendiri, terus terang, bukan orang yang suka kumpul keluarga. Pertama, gak ada yang seumuran gue, jadi biasanya kalo gue harus ikut, gue cuma duduk, liatin sekitar, bengong, nggak tahu mau ngobrol apa. Kedua, karena jarak dengan kedua kakak gue itu cukup besar, jadi yang dikenal itu ya kedua kakak gue aja. Udah gitu, karena muka gue dan kakak gue yang pertama itu cukup mirip, jadi sering banget para sanak dan kerabat salah mengira, bahwa gue itu adalah kakak gue yang pertama. Dan ini kejadian sudah berlangsung puluhan tahun lamanya *hela nafas*. Ketiga, ya gue males aja buang-buang waktu, mending melakukan sesuatu hal yang lebih berfaedah, contohnya tidur siang.

Makanya, gue itu pemilih banget untuk datang ke acara keluarga. Kalau nggak penting-penting banget, atau kalau nggak karena paksaan ibu, gue sebisa mungkin mencari alasan untuk nggak hadir. Kalau pun gue hadir, di usia sekarang, ya udah bisa sih mencari bahan pembicaraan. Dan sekarang sih terbantu banget dengan adanya kehadiran ponsel! Gue bisa lah sibuk sendiri dengan ponsel, cek medsos, baca berita atau sekadar main gim.

Patut diakui, kumpul keluarga itu juga berperan penting untuk merekatkan hubungan silaturahmi. Sebab, bagaimanapun juga, sanak kerabat itu yang turun tangan kalau sekiranya kita ditimpa musibah (selain tetangga, tentunya). Makanya, ibu tuh pesan ama gue, kalau sebisa mungkin mengikuti kumpul keluarga.

Ah, mungkin memang sudah saatnya untuk berubah 🙂

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial