Dua hari yang lalu, gue mengantar mbak Desy ke bandara. Setelah hampir 3 minggu di Jakarta, saatnya dia balik ke Arlington, kembali menjalani hari dan rutinitasnya.
Terus terang, gue orang yang nggak suka dengan momen perpisahan. Padahal kalau dipikir-pikir, gue kan terhitung cukup sering bepergian, jadi seharusnya gue udah terbiasa dengan momen ini. Tapi entah ya, selalu ada perasaan kehilangan yang sama yang nggak gue sukai. Keesokan hari setelah perpisahan tuh pasti terasa sekali ada yang hilang. Makanya gue kadang mencoba menyiasatinya dengan mengucapkan kata, “I’ll see you soon“, dan bukan bilang, “Goodbye“. Cuma ya kadang tetap aja nggak ngaruh sih, hahahaa.. KZL!
Perasaan kehilangan itu akan lebih terasa ketika waktu kebersamaannya lebih lama. Mau itu pas liburan bareng teman-teman dekat ke suatu daerah, pas liburan sendiri dan mengunjungi teman (kadang menginap untuk beberapa waktu, bermain sama keluarga dan teman-temannya), atau pas kakak dan keponakan gue lagi datang berlibur. Sehari sebelum bubar jalan tuh biasanya suka mikir, kapan lagi ya bisa ketemuan. Gue juga tuh perlu waktu lagi untuk menyesuaikan diri ke keadaan sebelum perpisahan terjadi. Itu juga mungkin yang jadi salah satu alasan kenapa sebisa mungkin gue menghindari perpisahan.
Tapi ya, macam pepatah aja. Di mana ada pertemuan, di situ ada perpisahan. Ini sesuatu yang takkan mungkin dihindari. Tinggal gimana pinternya kita ngatur suasana hati. Perjalanan panjang untuk bisa kendalikan suasana hati. Kadang bisa dikontrol, kadang nggak. Kalo lagi nggak bisa, byaaaaaar, keran nangisnnya bocor deeeehh…