…ambang batas…

Sebelum menikah, gue bolak-balik bilang ke mas Erwin kalo gue nggak mau punya anak. Alasannya karena mas Erwin udah punya 3 anak (jadi mending fokus ke mereka), terus usia gue juga udah nggak muda lagi. Sehingga kalo gue punya anak, kesenjangan usia antara gue dan anak gue akan sangat besar. Untung aja mas Erwin pengertian, jadi dia pun nggak pernah nuntut untuk punya anak.

Buat yang belum tahu, gue menikah di usia yang menurut pandangan orang Indonesia itu sangat terlambat, yaitu 42 tahun. Setelah gue menikah, ada beberapa teman yang bertanya tentang keinginan memiliki keturunan. Jawaban gue sih diplomatis, kalau dikasih Allah ya terima, kalau nggak ya nggak apa-apa juga. Yang penting, kalau sampai usia 45 belum dapat keturunan, gue langsung mau pakai IUD. Kenapa 45? Karena menurut gue, itu udah batas maksimal untuk melahirkan dan punya anak. Itulah mengapa gue nggak ikut program untuk segera memiliki momongan, karena gue percaya ama jalan Tuhan. Semuanya dibawa santai aja.

Nah pas puasa tahun lalu, gue seperti mendapat pencerahan gitu. Gue terinspirasi sama kisah Nabi Zakaria a.s. yang istrinya udah tua, bahkan divonis mandul, tapi akhirnya bisa hamil karena setiap saat Nabi Zakaria memanjatkan doa ke Allah SWT. Lalu terlintas aja di pikiran, kenapa juga nggak nyoba untuk memanjatkan doa yang sama. Cuma karena pada saat itu gue sangat fokus mengurus anak kucing gue yang sakit, jadi ya sambil lalu aja pikiran untuk punya keturunan itu.

Agustus, anak kucing gue mati dan setelah itu, gue baru benar-benar kepikiran untuk mencoba doa Nabi Zakaria. Alhamdulillah pas bulan September, seminggu setelah ulang tahun pernikahan yang ke-2, gue mengalami telat mens, sementara siklus gue sangat teratur. Tapi gue nggak langsung beli test pack. Gue nunggu sekitar 1 minggu untuk ngecek dengan test pack. Gue sengaja beli beberapa test pack dari merek berbeda. Pas pertama kali ngecek dan lihat ada 2 strip merah, jujur, gue nggak tau mesti merasakan apa. Senang udah pasti sih, dan tentu saja gue berterima kasih sama Allah SWT. Sujud syukur karena diberi kepercayaan untuk memiliki keturunan. Tapi di luar dari itu, gue kayaknya lempeng banget, cuma bisa bilang ke diri sendiri, “Oke, gue hamil. Lalu?”

Sewajarnya wanita hamil, sudah pasti ngecek kehamilan ke dokter kandungan. Pertama kali ke sana, gue dikasih tahu kalo masih kecil banget (ya iya laaaaaaah, wong baru usia 2 minggu) dan dia nyuruh gue untuk balik lagi 2 minggu untuk memastikan. Alhamdulillah, pas balik lagi ke dokter, di-USG, dan dokter confirm kalau memang gue hamil dan mengingat usia yang sudah tidak lagi muda, harus lebih sedikit waspada walau tidak membatasi aktivitas gue.

Sampai minggu ke-6, semua berjalan dengan sangat baik. Dan pas masuk minggu ke-7, dimulailah perjalanan kehamilan gue. Penciuman gue mulai terganggu, indera pengecap gue pun mulai aneh, dan gue mulai muntah walau gak banyak. Masuk minggu ke-8, jadi semakin parah. Masak, gue bahkan muntah ketika minum air putih. Jangan tanya soal makanan, karena nggak ada yang bisa bertahan masuk ke perut selain Regal, dan itu nggak ada gizinya sama sekali. Di minggu ke-9, pas jadwal ke dokter kandungan, gue bilang aja apa yang gue rasakan. Dan dia nyuruh gue untuk diopname. Berhubung itu hari Sabtu dan gue belum siap apa-apa kalau harus opname hari itu juga, jadi gue dibolehkan untuk datang buat rawat inap hari Minggu lewat UGD. Selain itu, kalau masuk lewat UGD, gue bisa ditanggung BPJS. Setelah tiga hari dirawat karena dehidrasi, Alhamdulillah, keadaan membaik dan gue boleh pulang.

Setelah keluar dari RS, tidak serta-merta keadaan gue langsung membaik seperti tidak ada apa-apa. Memang lebih baik dari sebelum masuk RS, tapi indera penciuman dan pengecap gue masih mendominasi hari-hari gue. Bersyukur sih mas Erwin bisa masak karena gue nggak bisa beraktivitas sama sekali. Mau jalan, pusing. Mau masak, cium aroma bawang putih aja langsung muntah. Bahkan ada masa gue pesan katering selama 2-3 minggu karena gue kasihan lihat mas Erwin masak (dan gue butuh sayuran, sementara mas Erwin kurang suka masak sayur-mayur).

Kata orang, masuk bulan ke-4, semuanya mulai berangsur membaik. Dalam artian, muntahnya berhenti. Tapi tidak untuk gue. Muntah udah jadi aktivitas gue sehari-hari, dan muntah gue itu bukan karena makanan. Gue bisa tuh muntah karena duduk kelamaan di deket pintu sehingga berteman akrab dengan angin, atau karena salah posisi bantal sehingga menekan urat leher, atau karena langsung minum setelah makan. Bahkan gue bisa muntah hanya karena gue membungkukkan badan setelah makan.

Ada beberapa kejadian muntah yang bikin gue kesel. Di suatu pagi, ketika gue kelar sarapan nasi pake abon, gue lupa kalo harus kasih jeda satu jam untuk minum. Kelar makan, langsung minum, nggak sampe 2 menit, itu nasi naik ke kerongkongan dan gue harus lari ke toilet untuk mengeluarkan semuanya. Gue beneran misuh-misuh sendiri karena abis muntah, gue lapar banget dan nggak bisa langsung makan karena nasinya habis. Jadi gue harus masak dulu!

Kejadian kedua, masih berhubungan dengan makan. Pas abis makan siang nasi & rawon, ada nasi jatuh dari piring. Terus gue membungkukkan badan untuk ambil nasi yang jatuh itu. Eh yang ada, itu nasi rawon naik ke kerongkongan dan secepat kilat gue ke kamar mandi untuk mengeluarkannya. Sebel! Masih banyak lagi kejadi muntah ini, dan saking banyaknya, nggak ngerti lagi mana yang mau diceritain di sini. Jangan sedih, gue dan muntah ini berteman akrab sampai minggu ke-36, hahaha… Asli luar binasah!

Untuk indera penciuman juga sama aja parahnya. Gue nggak bisa mencium sesuatu yang terlalu wangi. Jadi sabun mandi gue yang wewangian bunga harus diganti sama sabun bayi yang menurut labelnya “Mild” tapi setiap gue mandi, gue akan bernafas lewat mulut karena masih kencang di hidung gue. Banyak banget bau/aroma yang tadinya gue sukai sebelum hamil tapi pas hamil ini bisa membuat gue eneg to the max. Tapi gue nggak kayak mayoritas cewek hamil (bahkan ibu gue mengalaminya) yang nggak bisa cium bau nasi matang. Gue sama sekali nggak menemukan masalah dengan bau nasi matang (untungnya!).

Menjelang melahirkan, penciuman gue udah berangsur membaik walau masih ada beberapa bau yang masih bisa tercium dari jarak 100 meter dan buat gue eneg seperti kopi (terutama kopi Ayam Merak yang setrong abis baunya!), mecin (by the way, busway, gue yang dijuluki ratu micin sebelum hamil ini sama sekali nggak bisa kena mecin, man! Pernah ngedeprok seharian di toilet karena makan bakmi ayam GM 3 sendok ajah!), dan Baygon (anehnya, gue nggak ada masalah sama bau HIT).

Ada beberapa makanan yang gue gemari sebelum hamil tapi nggak bisa gue konsumsi karena rasanya aneh banget di mulut. Terus terang, indera pengecap gue itu baru beres seminggu sebelum melahirkan (weird, huh?!?). Jadi selama hamil itu, gue makan hanya karena gue harus makan demi bayi yang gue kandung. Sama sekali tuh nggak ada ngidam-ngidam. Eh, sebenernya gue tuh ada kepengen makan steak. Tapi gue dilarang makan bakar-bakaran ama dokter. Kasian ya! Kepengenan yang lain itu minum Fanta, specifically yang ungu! Sebagai penggila minuman bersoda (at least seminggu sekali gue minum minuman bersoda), dan gue harus puasa dari minuman jenis itu selama berbulan-bulan, sungguhlah suatu siksaan yang nyata adanya. Tapi setelah lewat 7 bulan, gue mulai bandel. Gue beli Fanta ungu tapi diminumnya berdua mas Erwin, dan satu botol ukuran 600 ml itu awet sampe 1 minggu. Tapi ini juga jarang-jarang sih, secara Fanta ungu itu juga udah jarang di pasaran. Untung juga gue bukan pengidap diabetes, jadi pas dicek lab, gula darah gue aman bingits!

Selama kehamilan ini gue kudu wajib rajin cek ke dokter kandungan tiap bulan. Dari bulan 1 s/d bulan ke-5, USG-nya 2D aja karena menurut gue belum penting banget utk USG 4D. Nah pas di bulan ke-6, karena kata dokternya udah bisa ketahuan kelaminnya, gue putuskan untuk USG 4D. Sebelumnya, mungkin karena efek 2D, jadi ya gue biasa aja pas USG. Dengerin detak jantung si bayi pertama kali juga lempeng aja. Tapi pas USG 4D ini, mukanya udah mulai terlihat, badannya juga udah mulai terbentuk lebih menyerupai bayi daripada onggokan daging, baru deh gue merasa terharu. It felt surreal… Dokter bilang kelaminnya lelaki. Gue dan mas Erwin sebenarnya pengen anak perempuan, jadi pas dikasih tahu kalo kelaminnya laki, kami tanya balik, “Beneran, dok? Bukan cewek?” Hahahaa…

O ya, berhubung gue hamil di usia berisiko tinggi, jadi dokter gue menyarankan untuk feto maternal. Berhubung RS gue nggak ada fasilitasnya, jadi gue cari ke RS lain. Feto maternal itu USG 4D juga, tapi lebih terperinci. Dari sini bisa keliatan apakah jantung, ginjal, ukuran kepala, panca inderanya bagus/lengkap. Alhamdulillah, hasilnya bagus semua. Dokternya bilang sih kalo ukuran bayi ini melebihi ukuran minggunya. Jadi, gue feto maternal di usia kehamilan 34 minggu. Tapi ukuran bayi gue ini udah seperti bayi di ukuran minggu ke-36, terutama ukuran kepala yang besar. Gue sempat khawatir kalo hidrosefalus, tapi untung aja dokter menenangkan dan menjelaskan kalau itu sama sekali bukan hidrosefalus.

Masuk minggu ke-36, gue cek ke dokter kandungan tiap minggu. Sempat senewen karena pas di minggu ke-37, gue cek ke dokter dan dia bilang semua baik-baik aja. Bahkan setelah USG, dia bilang semuanya bisa dilakukan dengan prosedur melahirkan normal. Trus dia nyuruh gue untuk CTG. Nah pas setelah liat hasilnya, dia nyuruh gue untuk lahiran malam itu juga. Dan gue menolak mentah-mentah. Untung banget gue punya teman jalan yang dokter kandungan senior. Langsung deh gue konsultasi ama beliau, dan semua saran beliau gue jalani.

Berhubung sudah dekat proses melahirkan, mending gue tulis di blog berikutnya yaaaaaa… Biar nggak kepanjangan gituh! Hahahaaa…

… sampai jumpa…

Dua hari yang lalu, gue mengantar mbak Desy ke bandara. Setelah hampir 3 minggu di Jakarta, saatnya dia balik ke Arlington, kembali menjalani hari dan rutinitasnya.

Terus terang, gue orang yang nggak suka dengan momen perpisahan. Padahal kalau dipikir-pikir, gue kan terhitung cukup sering bepergian, jadi seharusnya gue udah terbiasa dengan momen ini. Tapi entah ya, selalu ada perasaan kehilangan yang sama yang nggak gue sukai. Keesokan hari setelah perpisahan tuh pasti terasa sekali ada yang hilang. Makanya gue kadang mencoba menyiasatinya dengan mengucapkan kata, “I’ll see you soon“, dan bukan bilang, “Goodbye“. Cuma ya kadang tetap aja nggak ngaruh sih, hahahaa.. KZL!

Perasaan kehilangan itu akan lebih terasa ketika waktu kebersamaannya lebih lama. Mau itu pas liburan bareng teman-teman dekat ke suatu daerah, pas liburan sendiri dan mengunjungi teman (kadang menginap untuk beberapa waktu, bermain sama keluarga dan teman-temannya), atau pas kakak dan keponakan gue lagi datang berlibur. Sehari sebelum bubar jalan tuh biasanya suka mikir, kapan lagi ya bisa ketemuan. Gue juga tuh perlu waktu lagi untuk menyesuaikan diri ke keadaan sebelum perpisahan terjadi. Itu juga mungkin yang jadi salah satu alasan kenapa sebisa mungkin gue menghindari perpisahan.

Tapi ya, macam pepatah aja. Di mana ada pertemuan, di situ ada perpisahan. Ini sesuatu yang takkan mungkin dihindari. Tinggal gimana pinternya kita ngatur suasana hati. Perjalanan panjang untuk bisa kendalikan suasana hati. Kadang bisa dikontrol, kadang nggak. Kalo lagi nggak bisa, byaaaaaar, keran nangisnnya bocor deeeehh…

… jangan dipendam…

Ulang tahun gue di tahun ini spesial karena bertepatan dengan Iduladha, jadi semua orang merayakannya. Kapan lagi coba, ulang tahun lo dirayakan seluruh dunia? Nggak semua orang bisa mengalaminya. Yekaaaaaaannn?

Nah, berhubung mbak Desy lagi berkunjung ke Jakarta dan dalam suasana Lebaran juga, akhirnya kepikiran untuk recreate foto keluarga yang dulu juga dibuat waktu Lebaran walau itu pas Idulfitri.

Gue lupa foto dulu itu tahun berapa, tapi yang jelas sih sebelum tahun 2010. Ya katakanlah sekitar 10 tahun yang lalu. Kalau kedua foto diperhatikan, terlihat jelas bahwa dalam 10 tahun, ibu Tjuk memutih dan menyusut sekali ya, hehehe…

Oya, berhubung tiap ngepos foto ibu trus banyak yang komen kulitnya yang putih kayak porselen, gue sekalian aja mau jelasin. Jadi ibu itu bukan putih dari sananya, tapi kena penyakit vitiligo. Itu loh, penyakit kulit yang bercak-bercak putih. Kulit ibu sih emang kuning (maklum, ada turunan Cina), trus bercak-bercak putih di ibu ini pintar milih tempat munculnya. Jadi nggak kelihatan ama publik.

Menurut dokter, salah satu pemicu munculnya penyakit ini karena stres tapi disimpan sendiri. Sepeninggal bapak, ibu memang selalu bilang baik-baik saja, dan segala sesuatu memang berjalan seperti biasa. Tapi ternyata, semua ibu pendam sendiri dan mulailah bercak-bercak putih itu muncul. Entah berapa banyak dokter kulit yang didatangi, berapa banyak obat yang dipakai. Lalu pada akhirnya, daripada mengembalikan warna kulit kembali ke keadaan normal, ibu akhirnya memutuskan untuk sekalian pakai krim pemutih saja. Seiring perjalanan waktu, sel pembuat pigmen tubuh ibu bekerja sangat lambat nyaris berhenti. Itulah mengapa kulit ibu putih sekali, plus sensitif sama sinar matahari.

Jadi begitulah ceritanya. Pesan gue, kalau kalian stres, carilah teman untuk diajak bicara, jangan simpan sendiri ya. Kesedihan harus dikeluarkan, jangan ditekan sampai bertumpuk-tumpuk yaaaa…

…80 tahun di dunia…

Hari ini ibu Tjuk tepat berusia 80 tahun. Gue nggak pernah membayangkan akan hidup selama ibu. Tapi, gue juga nggak pernah bisa membayangkan kalau ibu tidak akan hidup selamanya. Untuk orang berusia 80 tahun, ibu cukup sehat. Keluhan yang dialami masih wajar-wajar saja, kayak sering lelah, punggung udah nggak bisa lurus lagi, kalau jalan udah nggak bisa cepat. Tapi di luar itu, ibu itu masih fit. Ya gimana yaaaaaaaaa, secara masih bisa bersihin kamar mandi sendiri, masih colongan naik tangga, potong rambut sendiri, dan yang juara itu ya masih bisa manjat pohon jambu!

Tahun ini, sebenarnya gue udah berencana untuk bawa ibu ke Masjidil Aqsa sebagai hadiah ulang tahun. Kalo tahun lalu kan hadiah ulang tahunnya berlibur ke Jepang karena ibu itu cerita kalo sejak muda belia, ibu ingin sekali lihat sakura dan budaya Jepang. Nah kenapa tahun ini gue pengen bawa ke Aqsa? Karena itu keinginan dia sejak dia pergi umroh pertama kali ama bapak. Tapi apa mau dikata. Manusia hanya bisa berusaha, tapi Tuhan yang berencana. Kami tiba di Jordan (sebagai tempat transit sebelum masuk Aqsa) siang hari pada tanggal 8 Maret, dan ternyata Jordan mengeluarkan larangan untuk menyeberang Israel tanggal 8 Maret di malam hari. Jadi mau nggak mau, kita hanya bisa jelajah Jordan. Kekecewaan jelas tergambar di raut wajah ibu, tapi mau bagaimana lagi? Kita hanya bisa pasrah ngalah, nrimo. Persoalan Corona ini benar-benar udah di luar kendali.

Gue sih masih berharap bisa bawa ibu ke Aqsa setelah semua urusan Corona ini selesai. Mudah-mudahan aja gue diberi kesempatan untuk mewujudkan keinginan ibu. Mohon doanya supaya ibu Tjuk selalu diberi kesehatan, dijauhkan dari penyakit, bahagia dan bisa menjejakkan kaki ke Aqsa yaaaaaaaaaaa…

…setahun yang lalu…

Tepat setahun yang lalu di tanggal 26 November, menandakan dimulainya perjalanan darat gue dan Nonie ke beberapa taman nasional di Amerika Serikat. Selama hampir 3 minggu, kami berdua menjelajah 4 negara bagian dengan mobil sewaan, merasakan udara yang kadang tak sama dari satu tempat ke tempat lain (bahkan pernah dari tempat yang panas terik ke dingin menggigil dalam 1 hari), mengalami hal-hal yang bisa membuat kami tertawa atau bertanya-tanya tanpa kesimpulan berarti, banyak sekali kisah-kisah seru yang kami alami berdua dan kalau kami lagi kilas balik, pasti mencuat rasa rindu untuk kembali ke masa itu.

Gue tidak akan bercerita panjang lebar tentang hal-hal yang kami alami karena bakalan panjang banget. Tapi gue lebih pengen bercerita tentang teman seperjalanan, Nonie. Gue ini memang suka jalan-jalan, bisa cepat adaptasi kalau bertemu dengan teman baru di perjalanan, tapi untuk memutuskan jalan-jalan berdua, gue ini tipe yang sangat pemilih. Gue kenal Nonie dari komunitas sosial yang gue ikuti. Untungnya di Lebah itu, mengingat kegiatan sosial kami itu kebanyakan di luar Jakarta, sehingga cukup banyak kegiatan yang membuat kami menghabiskan waktu 24 jam lebih bersama karena kami harus pergi sehari sebelum kegiatan. Selain itu, di Lebah itu juga tidak melulu berkegiatan sosial, tetapi beberapa kali jalan/ piknik bersama. Jadi ketika sedang membahas Amerika dan keinginan Nonie untuk road trip, di saat itu pula gue langsung bilang ke dia untuk segera susun rencana. Gue merasa gue sudah cukup mengenal karakter Nonie, dan gue yakin kalau nggak akan ada kejadian berantem sama Nonie selama perjalanan.

Persiapan pun dilakukan, tapi yang paling efektif itu mungkin 1-2 bulan sebelum keberangkatan. Walau gue sudah paham karakter Nonie, tapi selama persiapan itu, gue beberapa kali bilang ke Nonie kalau kita nggak boleh berantem. Kenapa? Karena kalau kita berantem, pasti perjalanan akan nggak enak banget. Sementara untuk pulang dan cabut dari perjalanan itu susah, karena pasti jauh dari bandara, hahahaaaa… Gue sendiri yakin sih, kalau nggak akan ada kejadian berantem sama Nonie.

Dan ternyata, keyakinan gue itu terbukti. Selama perjalanan, nggak ada sedikit pun perselisihan. Nggak usah lah perselisihan yang besar, wong yang kecil aja nggak ada. Bahkan, gue merasa kami saling melengkapi. Ketika gue panik, dia yang menenangkan gue. Dan begitu juga pas dia lagi kelimpungan cari barang, gue yang gantian kalem. Kalimat yang paling sering diucap kalo lagi kejadian panik-panikan atau lupa taro barang di mana itu cuma dua, “Pasti bisa!” atau “Pasti ada!”. Gue suka sama orang-orang yang punya aura positif, dan Nonie tuh positif banget. Makanya, gue nggak merasa ada kejadian duka atau sedih selama perjalanan bersama itu. Plus, kami berdua itu orang yang sama-sama nggak ngoyo, nggak buru-buru dikejar waktu, nggak yang harus melakukan satu kegiatan di satu tempat misalnya, “Kita mesti kejar matahari terbit!” atau “Kita harus capai puncak Half Dome”. Semuanya mengalir aja, disesuaikan dengan situasi dan keadaan. Soalnya kan ada tuh orang yang ngoyo, dan tipe orang ini buat lelah hayati, hahahaaaaaa…

Banyak banget kejadian seru yang kami alami dan sering memunculkan rasa rindu untuk mengalami kejadian-kejadian seru bin kampret itu bersama kembali. Mudah-mudahan aja bisa kami bisa pergi bersama lagi, walau entah kapan 🙂

Navigator merangkap pemberi makanan biar nggak ngantuk 🙂

Dua anak stres ama cuaca, hahahaaa…

TKP lupa angkat karpet karet mobil, dan baru diambil 12 jam kemudian. Takjub nggak ada yang nyuri, hahahaaa…

Seneng banget dah dapat salju di musim gugur 🙂

Tiap mau makan, ya harus masak dulu

Kelakuan kalo udah bingung mau gaya apa lagi *orang gila*

Senangnya nggak perlu pake jaket!

Ekspresi kaget karena waktu mau swafoto, tiba-tiba orang Alaska datang untuk bantu motoin kita. 

 

 

 

…ketika cita-cita tercapai…

Waktu gue SMP, ketika gue ditanya apa cita-cita gue, gue bilang kalau gue ingin keliling Indonesia, ke 27 provinsi (Ya! Indonesia di akhir 80an cuma punya 27 provinsi, gak 34 kayak sekarang). Gue pengen jadi pemandu wisata supaya gue bisa keliling Indonesia gratis, hahahaa. Gue merasa kalau dalam hal cita-cita, gue bukan kayak anak alay pada umumnya yang suka berubah haluan. Masuk SMA, memang gue ada keinginan untuk menjadi arkeolog. Tapi alasan di balik itu juga supaya gue bisa menjelajah Indonesia dan mencari benda-benda purbakala, menelisik sejarah Indonesia di masa lalu. Masih ada hubungannya dengan berkelana di daerah-daerah di Indonesia. Sayangnya, guru sejarah gue memberi gue kenyataan pahit, bahwa menjadi arkeolog di Indonesia itu tidak akan pernah dihargai dan tidak akan menghasilkan uang untuk bertahan hidup. Tapi, terima kasih lho, bu! Karena apa yang ibu katakan tentang profesi arkeolog itu benar adanya.

Kembali lagi ke cita-cita gue untuk jadi pemandu wisata, ok? Sebagai orang tua yang baik, maka pas gue mau naik kelas 2 SMA, bapak ibu gue mencari tahu sekolah yang cocok untuk mewujudkan cita-cita gue itu. Akhirnya didapatlah satu sekolah, namanya Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung, dan gue diberi tahu mengenai sekolah ini sama bapak dan ibu. Pas liburan kenaikan kelas, gue diajak mereka ke Bandung untuk melihat langsung sekolah ini. Gue benar-benar makin yakin untuk sekolah di STPB setelah gue lihat langsung dan mengagumi betapa kerennya seragam mahasiswa di situ.

Singkat cerita, gue sekolah di STPB walau tidak di jurusan pariwisata sesuai keinginan gue karena bapak maunya gue ambil D-IV perhotelan. Setelah lulus, gue pun tidak kerja di industri perhotelan karena pas gue lulus, Indonesia lagi dilanda krismon. Jadi alih-alih merekrut pegawai, industri tersebut malah kembang-kempis, berusaha bertahan hidup dengan memecat banyak karyawan. Gue pun banting setir, bekerja di bidang yang tidak sesuai cita-cita, bahkan tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan. Satu hal yang amat sangat gue syukuri bahwa gue kuliah di STPB itu adalah, sekolah ini sangat menempa mental gue, membuat gue nggak kaget akan dunia kerja. Jika dibandingkan dengan lulusan universitas lain, lulusan STPB angkatan gue dan beberapa tahun di bawah gue, masih terbilang bermental baja, bisa ditempatkan di segala situasi, nggak cengeng kayak anak-anak milenial yang bentar-bentar ngadu ke orang tuanya terus orang tuanya menghadap sekolah dan petantang-petenteng (bahkan orang tua yang lulusan STPB itu lebih bermental baja dalam mendidik anaknya, nggak kayak orang tua lainnya yang rempong, yang rumpian, yang bentar-bentar ngatur sekolah anaknya #kenyataan #alumnienhaiijuwarak #maapkalocarigaragara  #makanyajangansukapostingdimedsosbiargakkeliatankalolorempong).

Tapi, bukan berarti bekerja di bidang yang tidak gue sukai sama dengan mengubur cita-cita gue untuk keliling Indonesia. Gue masih meluangkan waktu untuk berlibur menikmati keindahan Indonesia. Terutama setelah gue tidak bekerja kantoran lagi, gue punya fleksibilitas waktu yang sangat tinggi, memungkinkan gue untuk berilbur kapan saja gue mau, selama anggaran liburannya sesuai, hahahaaa (ini penting!). Gue berlibur bisa sendiri saja, bersama ibu, beberapa teman dekat, atau bahkan sekumpulan teman yang benar-benar gue baru kenal saat mau berilbur.

Akhirnya pada Juni lalu, gue pun bisa mencapai keinginan gue untuk menjejakkan kaki ke 34 provinsi yang ada di Indonesia. Gue sendiri merasa kalau tempat-tempat yang gue datangi itu masih tergolong destinasi mainstream, walau ada beberapa tempat yang memang cukup anti-mainstream karena perjalanannya cukup melelahkan atau memang tidak banyak yang tahu bagaimana menuju ke destinasi tersebut.

Jika ditanya tentang perasaan gue setelah mewujudkan cita-cita gue, tentu gue akan jawab kalau senang luar biasa. Tapi itu tidak seberapa dibandingkan proses dalam mewujudkan cita-cita itu. Menikmati tempat-tempat indah Indonesia; berkomunikasi dengan warga setempat; melihat lingkungan yang kadang cukup membuat miris dan berkata dalam hati, “Seandainya gue punya duit banyak, gue akan…”; segala pengalaman mengesankan, mulai dari pengalaman baik, buruk, menegangkan, hampir mati, lucu, semua itu yang menurut gue lebih penting untuk diingat dan dirasakan.

Ada yang bertanya ke gue, mana tempat yang paling bagus dari semua tempat yang sudah dikunjungi. Terus terang gue nggak bisa jawab, karena Indonesia ini surganya tempat-tempat indah. Memang ada tempat yang biasa saja, yang hanya terlihat bagus dalam foto, tapi itu hanya sebagian kecil. Yang jelas, laut Indonesia itu sungguh sempurna! Itulah mengapa hingga detik ini, gue tidak pernah mau yang namanya berlibur ke pantai/laut di luar negeri, karena tidak ada yang menyamai keindahan laut Indonesia. Gue bahkan pernah satu minggu di Hawaii (gue bahkan lupa nama pulaunya), dan tidak satu kali pun gue menjejakkan kaki di pantai mereka yang konon kata indah dan wajib didatangi itu, hahahaaa.

Indonesia itu surganya keindahan alam. Walau tak jarang harus merogoh kocek lebih dalam untuk datang ke tempat-tempat tersebut dibandingkan pergi keluar negeri, tapi gue lebih puas jika gue pergi ke tempat tersebut dibandingkan keluar negeri. Mungkin nasionalis gue receh, tapi dengan berilbur, gue sangat bersyukur kalau gue dilahirkan sebagai orang Indonesia, negeri super kaya ini, dan bertekad untuk berkontribusi membangun negeri ini, entah bagaimana caranya.

Jadi, pergi ke mana lagi kita?

…tertawalah…

Tersenyum
Itulah yang tersisa
Walau terhempas
Dalam jurang asa yang pernah ada

Usah lara
Luka ini bukan yang pertama
Lama-lama juga terbiasa
Berkubang getir seraya tertawa

…suffocated…

The clock is ticking
And the night…
Oh, it crawls slowly to dawn
To morning
 
Wide awake
Mind wanders
To the past and future
To you
 
The planned encounter
Time spent
Nights and days
Yet, the unexpected feeling
 
If only I could freeze the time
Or push you away
But I’m helpless
Suffocated…

…Visa Israel…

Mumpung lagi suasana liburan, gue pengen berbagi cerita tentang visa negara yang sudah gue kunjungi. Kalau cerita visa Schengen, Amerika, Selandia Baru atau Inggris, agak kurang seru karena udah terlalu umum. Gue mau cerita tentang visa negara yang beda, Israel.

Akhir tahun 2016 lalu, gue kepikiran untuk pergi ke Yerusalem. Gue pengen banget liat Masjidil Aqsa. Gali informasi sana-sini, rata-rata kalo mau ke Aqsa dari Indonesia, pilihan gue cuma dua, ikut umroh atau ikut grup gereja. Jelas dua-duanya bukan pilihan yang sesuai buat gue. Jadilah gue sibuk telusuri informasi gimana caranya buat visa Israel tanpa harus ikut grup-grup berbalut agama. Akhirnya gue ketemu satu artikel kalau orang Indonesia itu bisa buat visa Israel di Singapura karena kedutaan besar Israel terdekat dari Indonesia ya yang di Singapura itu. Gue ke situs mereka, tanya-tanya, jelasin maksud dan tujuan gue, berapa lama gue di sana, dan akhirnya dikirimi formulir ama mereka. Asli, isian formulirnya banyak banget. Ternyata bukan hanya isiannya yang banyak, tapi ada hal-hal yang gue perlu minta bantuan dari agen perjalanan gue di Yordania. Cukup lama bolak-baliknya urusan visa Israel antara gue, kedutaan Singapura dan agen perjalanan di Yordania yang cerita singkatnya, agen perjalanan gue menolak membantu dan kedutaan Singapura juga nggak bisa proses kalau dokumen yang diminta nggak bisa disediakan. Pusing dong gue, secara berangkat tinggal 1,5 bulan lagi, sementara gue maunya visa Israel beres dulu baru gue urus visa-visa negara Timur Tengah lainnya.

Akhirnya gue iseng cari kedutaan Israel di negara lain yang paling dekat dengan Indonesia. Ternyata ada dua negara, Thailand dan Filipina. Berhubung jadwal penerbangan paling sering dari Indonesia itu ke Thailand daripada Filipina, akhirnya gue putuskan untuk email kedutaan besar Israel di sana sembari berdoa supaya mereka bisa memproses visa gue.  Waktu pertama kali email ke mereka, gue tuh deg-degan banget nunggu jawabannya.  Apalagi saat itu, gue lagi survei untuk kegiatan sosial yang daerahnya susah sinyal. Jadi ketika mereka kasih jawaban berdasarkan penjelasan maksud, tujuan dan durasi gue di sana bahwa gue bisa mengajukan permohonan visa turis dan minta gue untuk segera kirim salinan dokumen yang menjadi persyaratan visa, gue senewennya minta ampun. Gue ampe pengen banget ngebanting telepon karena sinyalnya penuh, tapi pas mau kirim lampiran, nggak bisa sama sekali.

Setelah mereka lihat salinan dokumen gue, mereka kirim email formulir pengajuan visa. Gue udah deg-degan bakalan ribet. Tapi mau tahu? Formulirnya cuma 1 halaman saja, saudara-saudara! Dan pas gue tanya berapa lama proses visanya, mereka bilang bisa 1 hari! Gue nggak ngerti ya, kenapa kedubes Israel di Singapura itu ribet banget. Formulirnya ampe 5 halaman terus prosesnya paling cepat 1 bulan. Iya, 1 bulan dan itu pun paling cepat! Gue semangat banget isi formulir itu karena isian dan persyaratannya standar banget. Asli, gue seneng banget ngisinya. Cuma jeda 1 hari dari gue kirim formulir dan mereka nanya ke gue, kapan mau datang ke Thailand karena gue harus datang langsung dan bawa persyaratan yang salinannya sudah dikirim via email. Orang kedutaannya cuma kasih pesan, datang sebelum jam 9 dan harus kasih tahu seminggu sebelum kedatangan. Tanpa menyia-nyiakan waktu, gue langsung cek jadwal pesawat (berikut harganya jelas) seminggu kemudian. Akhirnya, setelah menghitung waktu dan harga, gue berangkat naek pesawat paling malam ke Singapura dulu, bermalam di Changi, lalu lanjut ke Bangkok keesokan harinya. Gue belum beli tiket pesawat balik karena gue nggak tahu, apakah visa gue akan selesai hari itu juga atau nggak.

Sampai di Bangkok, langsung ke kedutaan. Ternyata kedutaannya ada di gedung, dan mereka punya petugas keamanan sendiri yang pakaiannya pun tidak seperti petugas keamanan. Asumsi gue, karena negara ini tahu banyak musuhnya, jadi mereka nggak mau mencolok. Paspor gue dicek, dan gue harus nunggu sekitar 15 menit di bawah. Setelah dibolehkan naik, gue nggak langsung naik, tapi dibawa dulu ke pos mereka yang ada di samping gedung untuk simpan tas dan handphone di loker. Jadi gue ke atas hanya bawa persyaratan dokumen plus dompet.

Diantar sampai atas pake lift, pas keluar lift, langsung dicek, ditanya-tanya ama orang kedutaan tujuan mengajukan permohonan visa. Setelah itu, baru gue diperbolehkan masuk. Ada 1 orang di konter visa, jadi mau nggak mau gue harus nunggu. Nggak lama, giliran gue. Setelah dilihat semua persyaratannya, gue ditanya apakah gue udah ada tiket pesawat pulang. Gue bilang jujur aja ke staf kedutaan kalau gue belum ada tiket dan harapannya, gue bisa dapat visa hari ini supaya gue bisa pulang malam ini juga. Dia nggak bilang apa-apa selain nyuruh gue untuk nunggu.

Karena nggak ada handphone, AC ruangan dingin, nggak pake jaket, TV satu-satunya di ruangan siarannya pakai bahasa Israel dan nggak ada majalah yang dipajang di sana untuk dibaca, jadi menurut gue, itu adalah masa menunggu yang paling lama dan paling garing. Untungnya, sejam kemudian nama gue dipanggil dan gue disodorin selembar kertas yang ternyata adalah visa Israel gue. Senang bukan kepalang gue!

Keluar dari kedutaan, gue langsung cari tiket pulang dan setelah dapat, baru berasa kalo gue lapar berat dan pastinya gue nggak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk berbelanja sembari mengisi waktu luang sebelum pulang. Oya, tarif visa Israel ini cuma sekitar 350 ribu, tapi ditambah tiket pesawat, makan dan transportasi di sana, yaaah, adalah sampe 5 juta sendiri. Sungguh menjadi visa termahal yang pernah gue urus.

…hanya dua digit…

Pukul 6 pagi. Mata mengerjap beberapa saat sembari mengumpulkan nyawa, melihat ke tempat tidur, kemudian kembali melihat jam dinding.

Hari ini, 31 Juli, dan gue bangun pagi di kamar tidur sendiri.

Buat gue yang sudah sekian lama tidak pernah ada di rumah saat ulang tahun, bahkan terakhir kali merayakan ulang tahun itu hampir 10 tahun yang lalu, apa yang gue alami pagi ini sedikit janggal. Gue diberi ucapan selamat ulang tahun, dicium ibu juga kakak gue di pagi hari.

Nggak ada yang spesial di hari ini selain gue bilang ke ibu kalo gue mau masakin dia. Gue mau masak nasi liwet biru dan tumisan isi kemangi, teri & tomat ijo.

Percakapan di malam Minggu

Ya itung-itung kasih ide dia buat ngado deh, daripada kayak tahun lalu, ujug-ujug kasih kalung. Sampe saat ini, gue tanya ibu beli kalung di mana, siapa yang nganterin, nggak mau ngasih tahu juga, cuma cengengesan. Jadi daripada dia keluar duit beli kado, mending suruh buatin bacem, hahahaaa… MURAH!

Setelah berkutat selama hampir 2 jam di dapur, masakan pun siap disantap. Saat sarapan ini pun, cukup “lucu” buat gue, karena sudah cukup lama gue menghabiskan sarapan di hari pertama bersama orang-orang yang sama sekali nggak tahu kalau gue ulang tahun di hari itu, tapi pagi ini, gue sarapan sama ibu. Ada sesuatu yang hilang dari ketidakhadiran orang-orang tak dikenal itu.

Serbuuuu….

Membalas ucapan-ucapan yang masuk via WAG juga salah satu yang nggak biasa buat gue, karena tempat gue melipir di ulang tahun itu biasanya tak bersinyal atau beda zona waktu. Untungnya, gue sudah ubah pengaturan di FB. Jadi ketika gue cek FB, hanya ada satu orang yang ingat ulang tahun gue, Doksin. Padahal Doksin ini baru gue kenal 6 bulan yang lalu.  Benar-benar di luar dugaan. Fitur ulang tahun di akun medsos lainnya, Path dan Twitter, tidak pernah gue aktifkan sejak semula.

Selain Doksin di FB, ada beberapa teman yang di luar dugaan gue, mengirim pesan ucapan ulang tahun pribadi di WA, bukan melalui grup. Senang, sudah tentu. Tapi lebih dari itu, membuat gue berintrospeksi, kenapa gue nggak bisa seperti mereka? Umumnya gue mengirim ucapan di grup atau FB karena ada notifikasi atau karena ada yang sudah duluan kirim ucapan. Terima kasih sudah memberi gue pelajaran bermanfaat hari ini ya!

Berhubung besok mau liburan, jadi siang ini gue pijat seluruh badan. Secara ya, gue bakal pergi 2 minggu. Nggak lucu banget kalo baru hari pertama tapi udah remuk. Pas banget setelah pijat, tetehku tersayang datang. Dia bawa kue sebagai kado ulang tahun. Yeaaaayyy…

Pada saat nulis, yang tersisa tinggal satu, haha…

Terharu, ampe bela-belain datang ke rumah selepas dia ngajar di Gandaria, padahal rumahnya di Pejaten. Tapi gue rasa juga karena dia kangen gue banget deh, secara sering banget mimpinya ada gue dan Beezers lainnya, hahahaa… Tapi gue seneng teteh bisa mampir ke rumah. Dia ini udah jadi semacam kakak buat gue. Dan selayaknya kakak, ya suka jadi korban bully dan tempat sampah, tempat gue buang kekesalan. Teteh ini jadi peredam gue, dan secara tidak langsung, berkontribusi cukup banyak untuk mengubah gue jadi orang yang lebih sabaran dikiiiiitttt…

Makasih teteh tersayang, teh Pipih, eh teh Fifiiiiiiiiiiiii…

Sekarang jam 19:00, berarti gue sudah 41 tahun 1 jam berada di dunia ini, menghirup udara yang diberikan Tuhan secara gratis.  Terima kasih Tuhan atas segala yang sudah diberikan ke gue dan keluarga ini. Terima kasih atas jalan hidup yang digariskan ke gue. Nggak ada satu pun yang akan gue sesali karena semua sudah diatur oleh-Mu.

Terima kasih untuk semua teman yang memberi ucapan dan memberi doa-doa yang sangat baik. Semoga kita semua selalu berada dalam lindungan-Nya, diberi kesehatan, kebahagiaan dan rezeki melimpah ruah agar selalu bisa berbagi dengan sesama. Semoga kita juga selalu menjadi orang yang ingat akan diri-Nya, dan ingat bahwa suatu saat, kita akan menemui Sang Pencipta. Semoga bekal kita sudah cukup banyak saat harus menghadap-Nya.

Aamiin ya rabbal alamin…

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial