…Visa Israel…

Mumpung lagi suasana liburan, gue pengen berbagi cerita tentang visa negara yang sudah gue kunjungi. Kalau cerita visa Schengen, Amerika, Selandia Baru atau Inggris, agak kurang seru karena udah terlalu umum. Gue mau cerita tentang visa negara yang beda, Israel.

Akhir tahun 2016 lalu, gue kepikiran untuk pergi ke Yerusalem. Gue pengen banget liat Masjidil Aqsa. Gali informasi sana-sini, rata-rata kalo mau ke Aqsa dari Indonesia, pilihan gue cuma dua, ikut umroh atau ikut grup gereja. Jelas dua-duanya bukan pilihan yang sesuai buat gue. Jadilah gue sibuk telusuri informasi gimana caranya buat visa Israel tanpa harus ikut grup-grup berbalut agama. Akhirnya gue ketemu satu artikel kalau orang Indonesia itu bisa buat visa Israel di Singapura karena kedutaan besar Israel terdekat dari Indonesia ya yang di Singapura itu. Gue ke situs mereka, tanya-tanya, jelasin maksud dan tujuan gue, berapa lama gue di sana, dan akhirnya dikirimi formulir ama mereka. Asli, isian formulirnya banyak banget. Ternyata bukan hanya isiannya yang banyak, tapi ada hal-hal yang gue perlu minta bantuan dari agen perjalanan gue di Yordania. Cukup lama bolak-baliknya urusan visa Israel antara gue, kedutaan Singapura dan agen perjalanan di Yordania yang cerita singkatnya, agen perjalanan gue menolak membantu dan kedutaan Singapura juga nggak bisa proses kalau dokumen yang diminta nggak bisa disediakan. Pusing dong gue, secara berangkat tinggal 1,5 bulan lagi, sementara gue maunya visa Israel beres dulu baru gue urus visa-visa negara Timur Tengah lainnya.

Akhirnya gue iseng cari kedutaan Israel di negara lain yang paling dekat dengan Indonesia. Ternyata ada dua negara, Thailand dan Filipina. Berhubung jadwal penerbangan paling sering dari Indonesia itu ke Thailand daripada Filipina, akhirnya gue putuskan untuk email kedutaan besar Israel di sana sembari berdoa supaya mereka bisa memproses visa gue.  Waktu pertama kali email ke mereka, gue tuh deg-degan banget nunggu jawabannya.  Apalagi saat itu, gue lagi survei untuk kegiatan sosial yang daerahnya susah sinyal. Jadi ketika mereka kasih jawaban berdasarkan penjelasan maksud, tujuan dan durasi gue di sana bahwa gue bisa mengajukan permohonan visa turis dan minta gue untuk segera kirim salinan dokumen yang menjadi persyaratan visa, gue senewennya minta ampun. Gue ampe pengen banget ngebanting telepon karena sinyalnya penuh, tapi pas mau kirim lampiran, nggak bisa sama sekali.

Setelah mereka lihat salinan dokumen gue, mereka kirim email formulir pengajuan visa. Gue udah deg-degan bakalan ribet. Tapi mau tahu? Formulirnya cuma 1 halaman saja, saudara-saudara! Dan pas gue tanya berapa lama proses visanya, mereka bilang bisa 1 hari! Gue nggak ngerti ya, kenapa kedubes Israel di Singapura itu ribet banget. Formulirnya ampe 5 halaman terus prosesnya paling cepat 1 bulan. Iya, 1 bulan dan itu pun paling cepat! Gue semangat banget isi formulir itu karena isian dan persyaratannya standar banget. Asli, gue seneng banget ngisinya. Cuma jeda 1 hari dari gue kirim formulir dan mereka nanya ke gue, kapan mau datang ke Thailand karena gue harus datang langsung dan bawa persyaratan yang salinannya sudah dikirim via email. Orang kedutaannya cuma kasih pesan, datang sebelum jam 9 dan harus kasih tahu seminggu sebelum kedatangan. Tanpa menyia-nyiakan waktu, gue langsung cek jadwal pesawat (berikut harganya jelas) seminggu kemudian. Akhirnya, setelah menghitung waktu dan harga, gue berangkat naek pesawat paling malam ke Singapura dulu, bermalam di Changi, lalu lanjut ke Bangkok keesokan harinya. Gue belum beli tiket pesawat balik karena gue nggak tahu, apakah visa gue akan selesai hari itu juga atau nggak.

Sampai di Bangkok, langsung ke kedutaan. Ternyata kedutaannya ada di gedung, dan mereka punya petugas keamanan sendiri yang pakaiannya pun tidak seperti petugas keamanan. Asumsi gue, karena negara ini tahu banyak musuhnya, jadi mereka nggak mau mencolok. Paspor gue dicek, dan gue harus nunggu sekitar 15 menit di bawah. Setelah dibolehkan naik, gue nggak langsung naik, tapi dibawa dulu ke pos mereka yang ada di samping gedung untuk simpan tas dan handphone di loker. Jadi gue ke atas hanya bawa persyaratan dokumen plus dompet.

Diantar sampai atas pake lift, pas keluar lift, langsung dicek, ditanya-tanya ama orang kedutaan tujuan mengajukan permohonan visa. Setelah itu, baru gue diperbolehkan masuk. Ada 1 orang di konter visa, jadi mau nggak mau gue harus nunggu. Nggak lama, giliran gue. Setelah dilihat semua persyaratannya, gue ditanya apakah gue udah ada tiket pesawat pulang. Gue bilang jujur aja ke staf kedutaan kalau gue belum ada tiket dan harapannya, gue bisa dapat visa hari ini supaya gue bisa pulang malam ini juga. Dia nggak bilang apa-apa selain nyuruh gue untuk nunggu.

Karena nggak ada handphone, AC ruangan dingin, nggak pake jaket, TV satu-satunya di ruangan siarannya pakai bahasa Israel dan nggak ada majalah yang dipajang di sana untuk dibaca, jadi menurut gue, itu adalah masa menunggu yang paling lama dan paling garing. Untungnya, sejam kemudian nama gue dipanggil dan gue disodorin selembar kertas yang ternyata adalah visa Israel gue. Senang bukan kepalang gue!

Keluar dari kedutaan, gue langsung cari tiket pulang dan setelah dapat, baru berasa kalo gue lapar berat dan pastinya gue nggak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk berbelanja sembari mengisi waktu luang sebelum pulang. Oya, tarif visa Israel ini cuma sekitar 350 ribu, tapi ditambah tiket pesawat, makan dan transportasi di sana, yaaah, adalah sampe 5 juta sendiri. Sungguh menjadi visa termahal yang pernah gue urus.

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial